“Untuk menjadi tenaga pengajar, katanya harus linier. Akhirnya saya berkuliah. Saya berkuliah di UNINUS sambil merintis PAUD Strawberry. Pada tahun 2016 lulus. Saya berkuliah lagi di program studi pendidikan PAUD,” ceritanya.
“Jadi sewaktu sekolah itu didirikan, sekarang anak-anak kecil aman. Tidak lagi bermain di pabrik, misalnya. Berbahaya. Kalau beres bantuin mamahnya, bisa mereka main sambil belajar. Kalau sore hari bisa ikut belajar mengaji di sini,” lanjutnya.
Namun perjalanan itu tidak berjalan mulus, setidaknya untuk hari ini. Masalah sampah di Pasar Induk Gede Bage belum juga terselesaikan. Hajat orang banyak menjadi korban. Diantaranya, mereka, anak-anak kecil yang masih mengenyam pendidikan. Lokasi PAUD Strawberry memang tidak jauh dari tempat pembuangan sampah (TPS) pasar tersebut. Beberapa meter saja.
Baca Juga:Jabatan Pj Bupati KBB Berakhir, Ade Zakir Tegaskan Siap Sukseskan Program JejePersoalan Sampah Pasar Induk Gedebage, Pengeloaan Masih Minim Perhatian
Akan tetapi, lokasi itu tidak sama sekali menyurutkan wali murid untuk berpikir dua kali ‘menitipkan’ anak mereka. Didominasi anak-anak para pedagang pasar, justru kehadiran PAUD ibarat berkah. Namun belakangan, kondisi sampah kian parah. Sedikit demi sedikit banyak yang berubah.
“Kami pada akhirnya pindah ke sini. Masjid Al Ahsan. Kami sudah menumpang untuk kegiatan belajar mengajar, lumayan, sudah tiga bulan lebih,” jelasnya.
Keputusan tersebut diambil karena kondisi di sekitar gedung PAUD Strawberry, Jl. Pasar Induk, Kecamatan Panyileukan sudah amat mengkhawatirkan. Sampah yang semula hanya menumpuk, kini meluber dan hampir menganggu kegiatan belajar mengajar. Bahkan sempat ada hewan pengerat masuk ke dalam kelas.
Anak-anak pun dipindahkan. Tidak lagi belajar di ruang kelas. Namun di teras depan sebuah masjid. Tentu, kata Dewi, pihaknya mengharapkan masalah sampah di Pasar Induk Gedebage segera terselesaikan. Tidak berlarut-larut dan malah merugikan.
Sesuatu yang berubah pun terjadi dalam hal jumlah murid. Imbas dari masalah sampah itu, sebagian murid tidak melanjutkan kegiatan belajar. Dari yang semula berisi 30 murid, Dewi menyebutkan, saat ini berkurang seperempatnya.
“Sempat juga kami berbicara dengan pihak RW dan kelurahan. Mereka masih menyuruh kami bersabar. Melihat kondisi itu, jadi kami putuskan untuk pindah tempat,” sambungnya.
