JABAR EKSPRES – Diduga mengalami depresi, seorang guru sekolah dasar di Daejeon Korea Selatan tikam muridnya sendiri yang masih kelas satu SD hingga tewas.
Peristiwa tragis itu terjadi pada Senin (10/2) sore, karena belum juga pulang dari sekolah, keluarga akhirnya melaporkan kehilangan murid itu ke polisi.
Kemudian pihak kepolisian beserta keluarga langsung melakukan upaya pencairan dengan menyisir lokasi sekitar tempat tinggal, area yang biasa dilewati murid itu dan termasuk sekolah.
Baca Juga:Penyidik Net89 Beda Arah di Saat Restorative Justice Korban Tercapai?Malam ini Nisfu Sya’ban, Jangan Lupa Lakukan Amalan ini
Pencarian membuahkan hasil, nenek murid itu menemukannya di ruang audio visual sekitar pukul 17.50.
Murid perempuan tersebut sempat dibawa ke rumah sakit, tapi sayang nyawanya tak tertolong karena pendarahan yang sudah sangat parah.
Peristiwa pembunuhan ini langsung membuat heboh satu negara, hingga mendapat perhatian dari Presiden sementara Korea Choi Sang Mok.
Presiden memerintahkan untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terkait insiden tersebut.
“Otoritas Pendidikan harus menerapkan tindakan yang diperlukan untuk memastikan insiden semacam itu tak terulang,” kata Coi.
Sebelum kejadian, tepatnya 4 hari sebelumnya, terungkap bahwa pelaku juga sempat melakukan kekerasan kepada sesama guru, hingga dilaporkan ke Dewan Pendidikan Korea pada 7 Februari.
Hal ini berdasarkan pernyataan dari Kepala Kantor Pendidikan Kota Daejeon, Choi Jae Mo, yang dalam konferensi persnya.
Dia menyebut bahwa pada 6 Februari 2025 lalu, pelaku yakni Guru A menyerang dengan mencengkeram kepala dan pergelangan tangan rekannya dengan keras, hanya karena diajak pulang bersama.
Baca Juga:Cara Baru Menghasilkan Uang dari Scroll TikTok di Tahun 2025Urutan Dzikir dan Doa yang Benar Untuk Dibaca Saat Malam Nisfu Sya’ban
Guru A mendapat teguran keras dari sekolah dan menyuruhnya meminta maaf, selain itu sekolah juga merekomendasikan agar Guru A dipisahkan dari aktivitas mengajar, baik melalui cuti sakit maupun liburan, dan akhirnya menempatkannya di sebelah wakil kepala sekolah.
Pagi hari sebelum kejadian, guru A sempat di datangi dua petugas beasiswa dari Kantor Pendidikan untuk mengevaluasi kondisi Guru A.
Sedangkan sore harinya, Guru A menikam murid kelas 1 SD dengan senjata yang telah ia persiapkan sebelumnya di ruang audiovisual sekolah.
