“Konsep moderasi dan toleransi yang diusung kementrian agama selama ini, menurut saya jelas bertentangan dengan Islam,” katanya.
“Yang saya fahami tentang konsep Islam, toleransi dan moderasi sebagai berikut, pertama Islam tidal pernah mengakui kebenaran agama selain Islam. Innadiina indallahil islam. Kedua dalam Islam, tidak ada toleransi dalam hal-hal yang qathi termasuk didalamnya masalah tauhid dan keimanan,” katanya.
Kemudian ketiga, Islam tidak pernah melarang umatnya bersosialisasi dengan orang kafir dalam perkara yang mubah. Misal jual-beli atau bisnis dan lain-lain. “Keempat, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk berdakwah kepada mereka yang belum beriman dengan cara yang hikmah,” ujarnya.
Baca Juga:Komisi IV DPRD Jabar Sayangkan Bianglala PT Jaswita Masih Berdiri di Puncak Bogor, Ini Bocoran HGUnyaPemerintah Kota Cimahi Targetkan PBB Capai 100 Persen Lebih di 2024
Ia menegaskan, pemasangan lampu lampion atau asesoris agama lain yang dilakukan oleh Kementrian Agama Kota Banjar menurutnya berlebihan. Apalagi dipasang di kantor urusan haji.
“Apa hubungannya lampion dan haji? Karena menurut saya ada banyak cara untuk menghormati dan menghargai ajaran diluar Islam. Apa yang dilakukan Kemenag Kota Banjar yang seolah-olah melakukan aktivitas menghargai agama lain sebetulnya anda sedang menyakiti umat Islam dengan mengajarkan toleransi kepada kami yang selama ini tidak ada masalah dengan agama lain,” ucap Zaenal Arifin.
Pihaknya juga menegaskan tidak akan diam jika pihak Kemenag Kota Banjar tidam segera mencopot simbol-simbol tersebut.
“Kami siap untuk sharing berdialog dan duduk bersama mendudukpersoalkan tentang toleransi dan moderasi beragama secara benar untuk kebaikan ummat Islam khususnya di kota Banjar. Belajarlah anda dari rukunnya umat Islam kota Banjar jangan mengajari kami kerukunan moderasi ala barat kepada umat Islam kota Banjar,” tegasnya. (CEP)
