JABAR EKSPRES – Stok beras di ritel modern seperti minimarket hingga supermarket sempat langka.
Penyebabnya tak lain karena harga beli beras di distributor melambung tinggi.
Hal itu diungkapkan Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jabar Yudi Hartanto.
Baca Juga:Proses Real Count di Kota Hujan Kena Skorsing, Komisi I DPRD Kota Bogor Soroti Sistem KPUUsai Antar Warga ke Rumah Sakit, Mobil Pelayanan Milik Desa Cikancung Bandung HilangĀ
“Harga beli kami yang semakin meningkat dari distributor kami, malah sudah melebihi HET Beras yang ditentukan BAPANAS,” jelasnya kepada Jabar Ekspres.
Yudi melanjutkan, persediaan beras di pasar sebenarnya tersedia, dan kekosongan hanya terjadi di toko ritel saja.
Kekosongan itu juga telah diprediksi sebelumnya mengingat harga di distributor yang terus melambung.
Kenaikan harga dipengaruhi supply beras yang semakin sulit. Hal itu diduga akibat mundurnya musim tanam dampak dari el-nino 2023 lalu.
“Sebagai penyalur eceran beras di hilir, ya tergantung dengan ketersediaan supply dari distributor beras yang bekerja sama dengan masing-masing retailer. Kami tidak dapat menentukan harga. Jika distributor menjual kepada toko ritel diatas HET Beras, lebih baik untuk sementara kami tidak menjual beras premium karena berpotensi melanggar ketentuan HET,” tuturnya.
Ritel-ritel di Jabar sendiri biasa membeli stok beras dari para distributor di wilayah Jabar. Di wilayah terdekat dari masing – masing ritel.
Seiring berjalannya waktu, sejumlah ritel juga mengambil kebijakan untuk pembatasan pembelian. Itu merupakan kebijakan masing-masing toko ritel.
Baca Juga:Versi Real Count, Suara Ketua DPRD Rudy Susmanto di Dapil 1 Bogor Semakin Tak TergoyahkanGencarkan Gerakan Membaca, Muda-mudi Sukabumi Ajak Bentuk Kebiasaan Literasi
“Tapi kami di asosiasi juga menyetujui pembatasan jumlah pembelian tersebut. Pemerintah juga memahami pembatasan pembelian maksimal 2 pak atau 10 kilogram per konsumen tersebut perlu dilakukan untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat memperoleh beras,” sambungnya.
Yudi berharap pemerintah perlu memahami bahwa HET beras juga menjadi kendala.
Ketika supply beras premium lokal belum tersedia karena belum memasuki masa panen, harga tingkat distributor yang sudah diatas HET beras perlu direlaksasi agar retailer tidak disuruh jual rugi. (son)
