Pendampingan Demi Berkembangnya Desa Wisata di Bali

JABAR EKSPRES – Made Mendra Astawa selaku Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata (Forkom Dewi) Bali mengungkapkan, sejumlah desa wisata yang ada di provinsi ini memerlukan dukungan pendampingan. Hal ini bertujuan agar desa wisata dapat berkembang dengan baik serta lebih optimal untuk menarik kunjungan wisatawan luar maupun dalam negeri.

“Desa wisata membutuhkan dukungan pentahelix (multi pihak) agar bisa lebih fokus, karena spirit kehadiran desa wisata itu sesungguhnya luar biasa,” ungkap Mendra, di Denpasar, Kamis 18 Januari 2024, dikutip dari Antara News.

Konsep dukungan pentahelix ini merupakan konsep yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, dan media massa.

“Ada sejumlah desa wisata yang mengalami keterbatasan sumber daya manusia (SDM), karena masyarakat setempat lebih memilih bekerja diluar desa,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia berharap dari kalangan kampus ataupun perguruan tinggi misalnya dapat untuk memberikan dukungan penguatan pada sumber daya manusia (SDM) yang akan mengelola desa wisata. Demikian juga dengan dukungan pemerintah pada desa wisata, agar bisa untuk lebih berkualitas serta jangan berhenti setelah pemberian dana alokasi khusus (DAK).

BACA JUGA: 35 Desa Wisata di Jawa Barat Raih Anugerah dan Masuk 500 Besar Wisata Unggulan

Selain itu, desa wisata ini membutuhkan dukungan peran dari media massa, agar turut mepromosikan potensi serta keunikan atau keunggulan desa wisata secara lebih luas sehingga dapat menarik lebih banyak kunjungan wisatawan.

Dia menambahkan, total ada 238 desa wisata di Bali saat ini. “Jumlah desa wisata terus bertambah karena masih tinggi keinginan masyarakat untuk hidup dari sektor pariwisata” tuturnya.

Bahkan, dia mengatakan, ada salah satu Kabupaten di Bali yang menginginkan semua desanya agar berstatus menjadi desa wisata.

Jika desa wisata dapat dikelola secara holistik serta tumbuh menjadi desa wisata yang bagus. Mendra meyakini bahwa masyarakat desa tidak perlu lagi pergi ke luar desa atau daerah untuk bekerja. Namun, saat ini realitasnya masih banyak desa wisata yang terkendala dalam tata kelola.

“Kami berharap desa wisata jangan hanya mandiri di atas kertas, namun yang lebih penting agar dapat membuat masyarakat desa lebih sejahtera,” tegasnya. (mg/winda putri prahmawati)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan