Viral Nyamuk Wolbachia, Apa Itu? Disebut Bisa Lawan DBD, Ini Faktanya!

JABAR EKSPRES- Belakangan ini, masyarakat ramai dengan upaya penyebaran nyamuk yang mengandung bakteri Wolbachia. Simak beberapa fakta mengenai nyamuk Wolbachia di sini!

Kementerian Kesehatan (Kemnkes) dilaporkan berencana untuk mengintroduksi nyamuk Wolbachia dengan tujuan mengurangi penyebaran demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia.

Wolbachia adalah jenis bakteri yang hanya dapat hidup di dalam tubuh serangga dan memiliki kemampuan untuk menonaktifkan virus dengue.

Sejak tahun 2011, teknologi Wolbachia telah menjadi fokus penelitian di Yogyakarta oleh World Mosquito Program (WMP) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Nyamuk ini merupakan varian Aedes aegypti yang telah terinfeksi oleh bakteri ini. Bakteri Wolbachia sendiri merupakan mikroorganisme alami yang ditemukan pada berbagai jenis serangga, termasuk nyamuk.

Baca juga: Viral, Bayi Prematur Meninggal Diduga karena Dikontenkan, Keluarga: Tak Minta Izin

Baca juga: Viral di Twitter dr Qory, Kenapa Viral? Ini Profil dan Penjelasannya!

Fakta Nyamuk Wolbachia

Berikut adalah rangkuman fakta-fakta tentang nyamuk ini:

-Gigitan Nyamuk 

Penelitian yang dilakukan oleh Riris Andono Ahmad, seorang peneliti nyamuk ber-Wolbachia dari UGM, menyatakan bahwa gigitan nyamuk dengan atau tanpa bakteri Wolbachia memiliki efek yang sama.

Meskipun gigitan nyamuk ber-Wolbachia masih dapat menyebabkan rasa gatal seperti nyamuk Aedes aegypti biasa, namun nyamuk ini tidak lagi menularkan virus dengue.

 

-Bakteri yang Tidak Dapat Berpindah

Doni menegaskan bahwa bakteri ini dalam tubuh nyamuk tidak dapat berpindah ke serangga lain, hewan, atau manusia. Bakteri ini hanya dapat bertahan di dalam sel tubuh serangga, dan jika keluar dari sel tersebut, bakteri tersebut akan mati.

 

-Efektivitas Nyamuk dalam Pencegahan DBD

Penelitian menunjukkan bahwa nyamuk ini dapat secara signifikan mengurangi kasus DBD. Hasil penelitian di Yogyakarta menunjukkan penurunan sebesar 77 persen setelah nyamuk ini dilepaskan.

Studi lain di Australia juga menunjukkan penurunan kasus DBD sebesar 80 persen dengan adanya nyamuk ini. Pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan nyamuk ini di beberapa kota, termasuk Yogyakarta, Semarang, dan Denpasar.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan