Guru Besar Fakultas Kedokteran UI Bantah AMDK Galon Isi Ulang Diduga Jadi Penyebab Autis Pada Anak

IDAI Semarang Bantah AMDK Galon Polikarbonat Sebabkan Gangguan Kelenjar Prostat Janin dan Diabetes
IDAI Semarang Bantah AMDK Galon Polikarbonat Sebabkan Gangguan Kelenjar Prostat Janin dan Diabetes
0 Komentar

BANDUNG – Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr.dr. Rini Sekartini , Sp.A (K) memastikan bahwa air minum dalam kemasan (AMDK) atau galon isi ulang tidak ada kaitannya dengan penyebab penderita autis pada anak-anak.

Padahal menurut Rini, penderita autis disebabkan oleh multifaktor seperti faktor genetik, lingkungan, ataupun karena infeksi di masa lampau.

“Itu bisa terjadi. Tapi, yang pasti air galon isi ulang tidak menjadi penyebab autis. Itu sudah pasti salah,” ujarnya belum lama ini.

Baca Juga:Tinjau Lokasi Kebakaran Pasar Leuwiliang, Bupati Bogor Segera Relokasi Pedagang SecepatnyaKendaraan yang Tak Lolos Uji Emisi Akan Dikenakan Pajak Tambahan, Begini Kata Bapenda Jabar

Menurut Rini, AMDK galon isi ulang tersebut sebetulnya sangat baik bagi kesehatan tubuh. Sebab menurut dia, mengandung mineral yang sangat dibutuhkan tubuh manusia.

“Air galon kan ada mineralnya, justru baik untuk kesehatan. Kalau dikatakan bisa menyebabkan autis, seharusnya sudah banyak anak-anak di Indonesia yang menderita autis karena yang minum air galon kan banyak. Tapi, nyatanya, yang autis bisa dihitung jari,” ucapnya

Rini menjelaskan, autis itu merupakan gangguan perilaku, sehingga untuk penanganannya juga harus dengan memperbaiki perilaku.

“Terapinya dilakukan dengan berbagai cara, ada terapi sensor integrasi, ada okupasi, ada terapi wicara, dan terapi perilaku. Jadi multifaktor untuk terapinya,” ungkapnya

Du tempat yang sama, Angel, ibu yang memiliki anak autis bernama Yujin bercerita awalnya putranya ini terlihat masih biasa-biasa saja, di mana milestone-nya sesuai dengan perkembangan buku panduan dokter.

“Tapi, saat berusia 1,5 tahun memiliki keanehan, dimana saat bermain mobil-mobilan sering rodanya dibalikkan jadi ke atas dan suka memutar-mutar rodanya. Fungsi mainan itu tidak dijalankan dengan semestinya. Tapi saya berpikir, saat itu bahwa itu hal yang wajar saja,” katanya.

Lalu, saat berusia 1,8 bulan, Angel disarankan untuk membawa anaknya ke klinik tumbuh kembang anak. Namun setelah beonsultasi dengan psikolog, bahwa anaknya butuhnya terapi Sensory Integration (SI)

Baca Juga:Relawam Ganjar Minta Relawan Tak Pusingkan Sosok BacawapresHari Bhakti ke- 78 Postel, Menkominfo Berikan Apresiasi Kepada Seluruh Insan Sektor Pos dan Telekomunikasi Indonesia

“Kemudian setelah menjalani berbagai proses, saya kemudian disarankan membawa anak saya ke psikiater. Barulah anak saya itu terdeteksi menderita autis. Saat itu putra saya sudah berusia 4 tahun,” ucapnya

“Jadi, saya disarankan fokus pada penanganannya saja dan bukan kepada penyebabnya. Dan sampai sekarang, anak saya masih terapi SI, terapi wicara, behavior, dan perilaku sesuai dengan pertumbuhan usia anak saya. Di mana, dia harus tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang tidak,” pungkasnya. ***

0 Komentar