Peta Permasalahan Arus Informasi di Era Post-Truth

Peta Permasalahan Arus Informasi di Era Post-Truth
Ilustrasi dari Pexels
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kita saat ini jika merujuk kepada Teori Kepemimpinan Warren Bennis dan Burt Nanus, sedang berada dalam kondisi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity). Di mana perubahan bisa terjadi sangat cepat, tidak terduga, dipengaruhi oleh banyak faktor yang sulit dikontrol, dan kebenaran serta realitas menjadi sangat subyektif.

BANI pada dasarnya menggambarkan sebuah kondisi pasca memasuki suatu era yang disebut era Post Truth. Istilah ini mulai dikenalkan tahun 1992 oleh Steve Tesich dalam tulisan berjudul The Government of Lies. Tulisannya dalam majalah The Nation tersebut merupakan bentuk ungkapan kegelisahan atas propaganda negara-negara yang terlibat dalam Perang Teluk yang dinilai membingungkan publik global, dimana kebenaran dan kepalsuan menjadi hal yang sulit untuk dibedakan. Terkadang masyarakat merasa bingung dengan berita-berita maupun opini-opini yang beredar, bahkan cenderung terpolarisasi menjadi kutub – kutub yang saling berhadapan.

Dalam kondisi seperti ini, seringkali fakta tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan opini masyarakat dibandingkan emosi dan keyakinan personal.

Baca Juga:KILAS KEMARIN: 8.698 Kasus ISPA di Kota Depok Pada Balita hingga The Jak Rusuh saat Persija vs Persib ImbangRebranding Jalur, Safari Malam di Taman Safari Bogor Ditutup Sementara

Apalagi di era medsos saat ini, setiap orang yang memiliki telepon seluler atau smarphone seolah – olah ‘otomatis’ menjadi jurnalis, bahkan sering kebablasan karena menyiarkan (sharing) berita tanpa disaring terlebih dahulu melalui apa yang disebut konfirmasi atau validasi berita.

0 Komentar