Ruang Jurnalisme Kelompok Wartawan DPRD Kabupaten Bogor Gelar Diskusi Soal ini!

Ruang Jurnalisme Kelompok Wartawan DPRD Kabupaten Bogor Gelar Diskusi Soal ini!
Ruang Jurnalisme Kelompok Wartawan DPRD Kabupaten Bogor menggelar diskusi mengenai liputan bencana. (Sandika Fadilah/Jabar Ekspres)
0 Komentar

“Tidak melukai perasaan korban bencana yang dapat mengakibatkan patah semangat atau lainnya, jurnalis pun memiliki peran penting dan penanganan pasca bencana,” lanjutnya.

“Media juga diharapkan dapat menyuarakan korban bencana. Media harus berdiri di sisi korban yang sedang memperjuangkan hak untuk hidup normal seperti sediakala,” tambahnya.

Lanjut Fikri, media perlu secara kritis mengabarkan proses penanganan rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana, dan kendalanya kepada stakeholders, termasuk pemerintah.

Baca Juga:Kolaborasi Ortuseight Bersama SOS Children’s Villages Luncurkan Seri Hyperblast di Hari Anak NasionalTelkom Sukses Selenggarakan AKHLAK Culture Festival TelkomGroup 2023

“Sebagai wakil publik, media bertugas mengawasi dana rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana. Dalam banyak kasus, pada fase ini sering terjadi penyelewengan dana yang bersumber dari APBN dan donasi,” tuturnya.

Dalam hal ini, Fikri menggambarkan situasi Bogor ‘dikepung’ bencana pada H+2 Lebaran atau Senin, 24 April 2023, bencana alam tak hanya terjadi di Desa Sadeng, Leuwisadeng. Melainkan, terjadi di 14 desa lainnya di Kabupaten Bogor dengan peristiwa beragam.

Pada saat kejadian tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor mencatat, peristiwa banjir terjadi di enam desa lainnya, yakni Desa Kalongliud Kecamatan Nanggung, Desa Harkatjaya Kecamatan Sukajaya, Desa Bojong Kecamatan Tenjo.

Kemudian, di Kecamatan Jasinga, banjir terjadi di tiga desa, yaitu Kalongsawah, Koleang, dan Sipak.

Selain banjir, bencana alam tanah longsor terjadi di tujuh desa, yaitu Desa Sukajaya Kecamatan Tamansari, Desa Cidudeg Kecamatan Cigudeg, Desa Purasari Kecamatan Leuwiliang, Desa Kalongliud dan Desa Pangkaljaya Kecamatan Nanggung, serta Desa Urug dan Desa Harkatjaya Kecamatan Sukajaya.

Bencana alam angin kencang terjadi di tiga desa yaitu, Kelurahan Nanggewer Kecamatan Cibinong, serta Desa Cidudeg dan Desa Wargajaya Kecamatan Cigudeg.

Terakhir, bencana alam pergeseran tanah terjadi di Desa Sukawangi Kecamatan Sukamakmur.

Baca Juga:Viral! Foto Santriwati Pegang Airsoft Gun, Begini Tanggapan Polda JatimJenius Dukung Pocari Sweat Run Indonesia 2023 Melalui Rangkaian Acara #laribarengjenius, Melanie Putria Berbagi Cerita Inspiratif

Belasan peristiwa bencana alam tersebut tidak menyebabkan korban jiwa. Namun, ada sebanyak 110 jiwa terdampak, 77 bangunan rusak ringan, 13 bangunan rusak sedang, dan tiga bangunan rusak berat.

Lebih lanjut, Fikri menjelaskan, banyaknya peristiwa bencana dalam sehari di Kabupaten Bogor membuat pemerintah daerah setempat menetapkan status tanggap darurat bencana.

“Jajaran Pemerintah Kabupaten Bogor pun menggelar rapat koordinasi (Rakor) mengenai kebencanaan pada hari pertama masuk kerja, Rabu (26/4), setelah libur Lebaran 1444 Hijriah, dengan keputusan Pelaksana tugas (Plt) Bupati Bogor, Iwan Setiawa menetapkan status tanggap darurat bencana agar penanganan pascabencana bisa dilakukan lebih cepat dan maksimal, karena mendapat dukungan anggaran dari APBD,” pungkasnya.

0 Komentar