Gelaran Festival Hijriah ini diselenggarakan oleh Republika bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Komite Tiongkok (KIKT) yang berlangsung di sembilan kabupaten dan kota. Sementara di Yogyakarta, Ustaz Wijayanto yang akan mengisi acara Festival Hijriah.
Festival Hijriah #4 juga dimeriahkan dengan penampilan parade seni dan budaya dari Muslim Xinjiang oleh kelompok seni Art Troupe Performance.
Sementara Wakil Pemimpin Redaksi Republika Nur Hasan Murtiaji, didampingi Kepala Perwakilan Republika Jawa Barat Sandy Ferdiana, menjelaskan, Festival Hijriah digelar sebagai momentum untuk mengingat perjalanan waktu dan peradaban umat Islam. Pihaknya berkewajiban mengajak masyarakat untuk bermuhasabah, terlebih di momentum Tahun Baru Islam.
Baca Juga:Rencana Pembangunan Instalasi RDF di TPAS Galuga Bogor, KemenkoMarves Beri Sinyal PositifFestival Merah Putih di Kota Bogor Kembali Digelar Sebulan Penuh di Agustus 2023
Pihaknya merasa perlu menghadirkan seni budaya Muslim Xinjiang. Karena, kata Hasan, selama ini orang banyak berbicara tentang Muslim Xinjiang dengan segala macam perspektifnya.
“Kami mencoba mengangkat perspektif yang lain, yaitu dari seni dan budaya, sehingga diharapkan menjadi pintu dialog dengan Muslim Xinjiang,” tambah Hasan.
Para undangan dihibur oleh ragam lagu, seni tari, opera hingga akrobat. Kelompok seni Art Troupe Performance membuka pertunjukan dengan tarian dan tabuhan rebana yang merepresentasikan berbagai kelompok etnis di Xinjiang.
Penyanyi solo lelaki juga menyuguhkan nyanyian kumpulan lagu-lagu klasik sebagai simbol yang menunjukkan kualitas keramahan orang Tionghoa dari semua kelompok etnis. Tak ketinggalan, para penampil juga mempertontonkan seni daerah tarian ‘Jula’ dari 12 Muqam Uighur.
Pada 2005, seni klasik ini masuk Daftar Perwakilan Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO. Karya seni ini masuk dalam gelombang pertama Daftar Item Perwakilan Budaya Takbenda Nasional pada 2006.
Muqam adalah seni pertunjukan suku Uighur yang mirip dengan opera, menggabungkan antara musik tradisional, lagu, dan drama. Adapun terjemahan kata Jula dari bahasa Uighur berarti mutiara yang bersinar.
