LITERASI BACA-TULIS ABAD KE-21

Guru melek teknologi berarti guru yang siap menyongsong masa depan. Guru yang tidak mau berubah cepat atau lambat akan menjadi patung berucap tanpa ada yang mendengarkan. Bisa jadi Anda pernah mengalami “dikacangin” anak-anak ketika kita asyik menyampaikan pelajaran. Asyik menurut kita belum tentu asyik menurut mereka. Artinya, saat kita bersemangat menyampaikan pelajaran sebalinya peserta didik asyik dengan dunia sendiri. Ia cukup klik pelajaran apa yang disampaikan hari ini, dengan hitungan menit bahkan detik sudah tersaji di HP mereka. Akhirnya peran guru tergeserkan dengan teknologi. Bukankah sudah tersedia, MOOC, Massive Open Online Course serta AI (Artificial Intelligence). MOOC adalah inovasi pembelajaran daring yang dirancang terbuka, dapat saling berbagi dan saling terhubung atau berjejaring satu sama lain.

Di sinilah tantangan kita, bagaimana mengimbangi kemajuan teknologi menjadi nilai positif bagi pembelajaran. Bukankah sebelumnya kita merasa tersinggung dengan adanya bimbingan belajar (Bimbel) yang menjamur di mana-mana. Sabda guru menjadi lumpuh alatan lebih percaya ke bimbel. Orangtua begitu bangga anaknya diterima di sekolah yang mereka inginkan, anakku diterima karena anakku ikut bimbel. Seolah sekolah dalam hal ini guru tidak berperan dalam mensukseskan anak mereka. Namun belakangan ini, sedikit banyak bimbel terancam dengan perkembangan teknologi. Bukankah cukup klik di HP seluruh pelajaran tersaji dengan sempurna.

Suatu saat penulis diminta jadi model mengajar oleh peserta didik. Mereka membuat skenario dengan begitu sempura, mulai dari penata gaya, pencahayaan sampai bagaimana menyampaikan pelajaran yang menarik. Berbekal HP, a sampai z saat penulis menyampaikan pelajaran ia rekam menjadi sebuah film yang menarik! Lalu diupload, dikirim ke youtube. Maka jadilah sumber belajar dan bisa dinikmati oleh masyarakat dunia.

Di lain waktu, peserta didik menceritakan bagaimana pemanfaatan teknologi. Saat semesteran ujian berlangsung, guru asyik dengan dunianya sendiri, asyik membaca buku, koran atau memainkan HP. Di lain pihak peserta didik pun demikian asyik dengan HP-nya sendiri. Selidik punya selidik, soal-soal yang diujikan, cukup mereka ketik ulang atau difoto lalu dikirim ke Google dalam hitungan menit jawaban terkirim kembali di HP mereka, terselesaikanlah sudah dengan sempurna.

Tinggalkan Balasan