Nirguna Kolam Retensi, Banjir, dan Cerita Pedagang Pisang di Pasar Gedebage Selepas Hujan Pergi

Asep yang berjalan kembali ke meja kasirnya itu menyampaikan, banjir di Pasar Gedebage tergolong menjadi musibah sebab di samping riskannya barang dagangan rusak, pembeli berkurang hingga tenaga terkuras merupakan dampak serius yang perlu ada solusi agar tak berkepanjangan.

“Capek. Setiap hujan turun kita pasti omzet-nya kecil. Karena, siapa yang datang pas lagi hujan apalagi banjir besar di sini (Pasar Gedebage),” ucapnya dengan posisi berdiri sambil melipat kedua tangan di dadanya.

Beruntung, lapak dagangan Asep sudah mengalami tiga kali perubahan. Mulai dari ditinggikan menanjak sekiranya setengah meter, kemudian ditinggikan 5 sentimeter dan terakhir hanya sebagian lapaknya yang ditinggikan sekira 30 sampai 40 sentimeter.

“Kalau belum ditinggiin kayaknya udah pasti kuintalan pisang kerendam, bisa jadi busuk juga kalau kerendem banjir lama. Soalnya malam itu kita 4 jam baru mulai bisa bersih-bersih, surut-surut 5 apa 6 jam itu baru kering betul,” imbuh Asep yang kini mulai dihampiri seorang pembeli.

Pedagang lain yang membantu Asep menjual pisang, Ikhsan Maulana (22), warga Cililin, menuturkan hal sama. Banjir menjadi keluhan bagi para pedagang di Pasar Gedebage.

“Hujan kecil aja di sini pasti banjir, walaupun cuma semata kaki. Tapi, tetep aja sampah itu ikut kebawa air,” tutur Ikhsan yang sejak awal duduk menyimak perbincangan, dengan mengenakan kaos hitam serta celana krem pendek.

Menurutnya, kehadiran kolam retensi untuk mengatasi banjir dinilai kurang maksimal manfaatnya. Sebab, setiap kali hujan mengguyur, para pedagang masih tetap terdampak genangan air dan merugikan baik dari segi waktu, tenaga maupun keuntungan.

Ikhsan menambahkan, sebelum dan setelah dibangunnya kolam retensi, Pasar Gedebage tetap banjir dan sampah-sampah selalu terbawa arus hingga menetap di setiap lapak pedagang sampai ke ruas jalan.

“Kadang di sini enggak hujan juga, kalau daerah Ujungberung hujan besar, airnya ngalir ke sini. Ada kolam retensi juga tetep banjir, padahal di sini cuaca panas, karena banjirnya kiriman dari atas (Ujungberung),” paparnya sambil merapikan rambutnya yang pendek dengan model belah tengah.

“Kita masih mending lapaknya udah ditinggiin, kebayang kalau yang masih ngampar belum ditinggiin, pasti bingung dan rugi barangnya kena banjir,” lanjutnya yang masih duduk di atas kursi rotan panjang.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan