Yang diinginkan orang itu adalah segera tiba di rumahnya, sudah sumpek di tempat kerjanya, lapar, pusing belum bayar hutang. Oleh karena itu, dia memaki-maki kamu secara kasar.
Dengan kata lain, cobalah memahami apa yang terjadi dari perspektif orang lain. Redamlah ke-aku-an yang melelahkan itu.
Semuanya memang tentangmu
Celakanya, ketika orang lain memperingatkan kamu untuk mengantre, kamu justru marah.
Baca Juga:Potensi Buah di Food Estate Kalteng Mencapai Rp79,55 MiliarJanji I Made Wirawan dalam Laga Persib Lawan PSM
Kalian bertengkar. Kamu tidak terima bahwa orang lain memarahi kamu karena kamu tidak mau mengantre dalam mengisi bensin.
Jika kamu ingin bahagia, tanyakanlah kepada dirimu sendiri orang lain mungkin benar, kamu seharusnya ikut mengantre.
Kamu tidak akan baper jika kolega di kantormu memberikan komentar dan kritik atas pekerjaan kamu, misal.
Bercerminlah, bisa jadi apa yang orang lain katakan itu benar. Bosmu memarahi kamu karena kamu tak becus menyelesaikan pekerjaan.
Tanyakan kepada diri kamu sendiri, jangan-jangan perkataan bos kamu itu benar. Kamu sering lalai dalam bekerja, banyak menunda-nunda, tak serius. Dan oleh karena itu, bosmu mengatakan bahwa kamu itu tak becus.
Jadi, ini adalah tentangmu. Apa yang terjadi adalah tentangmu.
Berempatilah kepada dirimu sendiri. Beritahu orang lain apa yang kamu rasakan. Biarkan orang lain tahu bahwa mobilmu sedang mogok di tengah jalan sehingga orang lain tidak akan menuding kamu pembuat kemacetan.
Jangan benturkan ego kamu dengan ego orang lain. Belajarlah memahami dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang orang lain. Kemudian, beritahukan apa yang terjadi pada dirimu kepada orang lain.
Baca Juga:Penerangan Jalan Umum Bandung Kurang Memadai, Dewan Desak Pakai LEDKemensos Salurkan Program PKH Tahap I Senilai Rp1,199 Triliun di Jabar
Artikel ini merupakan saduran dari video TedTalks di YouTube berjudul “How not to take things personally?”
