Mengamati lingkungan sekitarnya yang tak terlalu memperhatikan literasi, Tamara Setiyani mendirikan taman baca. Adalah Aya Rumah Dongeng Patokbeusi namanya.
Muhamad Nizar, Jabar Ekspres.
Oktober tahun lalu menjadi titik awal di mana gerakan literasi itu mulai tumbuh di Desa Sukawaris, Patokbeusi, Kabupaten Subang. Dari wilayah paling barat di kabupaten ini, geliat literasi tumbuh perlahan.
Perempuan berusia dua puluh tahun itu menyebut bahwa niatan untuk mendirikan Aya Rumah Dongeng terbesit seusai dirinya mulai bergerak dalam Forum Taman Baca Masyarakat (F-TBM) Karawang.
Baca Juga:Warga Berdatangan Mengambil Minyak Pertamina yang Tumpah ke Sungai, Kok Bisa?Mengenal Pasal 338 KUHP, Pasal 55, dan 56 yang Menjerat Bharada E
Dari sana pula, Aya, sapaan akrabnya, mengetahui bahwa dunia literasi bukan sekadar kegiatan yang dilakukan masyarakat umum. Melainkan memang sudah ada program dari pemerintah.
“Aku pun sempat sharing dengan pegiat TMB antar kota soal literasi,” ujar Aya saat dihubungi wartawan Jabar Ekspres, Kamis (4/8).
Kendati niatan itu baru muncul, semula, Aya memang senang membaca. Hingga akhirnya sampai menuju kegemaran lainnya, yakni mengoleksi buku.
Sedari sekolah menengah atas (SMA), dirinya keranjingan dengan bahan bacaan. “Ketika tahu bahwa apa yang aku sukai ini memang ada memiliki konteks yang lebih besar, saya mengadakan TBM,” imbuhnya.
Permulaan, Aya memang tidak terlalu percaya diri untuk memulai. Namun lantaran melihat kondisi lingkungan masyarakat yang masih tampak abai, terkhusus pada literasi. Dia memberanikan diri.
Berbekal pengalaman saat beraktivitas di F TBM Karawang, dia berbekal kemampuan berdongeng hingga akhirnya memberikan nama Aya Rumah Dongeng di Patokbeusi untuk TBM yang didirikannya.
Selain karena memiliki banyak buku-buku anak, Aya menyebut bahwa sasaran awal taman bacanya ialah memang anak-anak. “Pertama, anak-anak pengajian. Untuk bulan pertama, aku numpang ke beberapa tempat pengajian.”
Baca Juga:Buruan Sae Mendunia di Konferensi U-20Irjen Ferdy Sambo Telah Berikan Kesaksian ke Bareskrim Polri, Hingga Sampaikan Duka
Waktu pun terus melaju dan keinginan mengoleksi buku makin menggeliat. Dikumpulkannya buku-buku itu dari dari hasil sumbangan, pinjaman, dan membeli. Lantas Aya memilih berpindah. Kini Rumah Dongeng itu berada di rumahnya.
“Selain membaca, anak-anak bisa menggambar atau bisa menonton, namun, (tetap) dalam konteks literasi. Karena literasi bukan cuman baca-tulis,” ujarnya.
Dia pun menanamkan pemahaman pada anak-anak bahwa literasi itu bukan perihal baca-tulis saja. Saling sebar tontonan atau bahkan curhat kegiatan sehari-hari juga merupakan bagian dari literasi.
