Sebelumnya, Bima Arya menargetkan proses administrasi selesai sebelum masa jabatannya habis. Sehingga di 2024 bisa dimulai pembangunanya.
Poses yang ditempuh memang cukup alot. Rudy menegaskan, tak ingin kecolongan seperti LRT yang dinilai gagal dalam penataannya. Semuanya mesti selaras, termasuk dengan PT KAI.
“Kita tidak ingin seperti LRT ya, LRT itu kereta api dilibatkan diakhir, sehingga spesifikasi teknis dan sebagainya gak nyambung,” paparnya.
Baca Juga:Cara Membuat Bumbu Rendang Padang, Lengkap dengan Resep OlahannyaTernyata di Ponpes Ayah Mas Bechi Ada Doktrin Cinta Negara
Namun, pihaknya memastikan trem akan dituntaskan usai Pemilu 2024. Targetnya 2025 trem dapat dinikmati masyarakat.
“Target operasional harus lewat di tahun 2024, tapi semua ikhtiarnya kita upayakan agar legasi administratif, perencanaan bisa selesai di tahun 2023 dan 2024,” bebernya.
Dia menjabarkan, Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pun sudah tuntas. Dengan harapan DPRD dapat membahas dan merampungkan Perda Transportasi Agustus mendatang. Hingga pada tahap terakhir megenai teknis, meliputi perizinan penetapan trase trem.
Terkait anggaran perlu ada skema pembiayaan yang ekstra. Hal ini juga menjadi salah satu mandeknya wacana proyek ini. APBD Kota Bogor tak cukup untuk mencovernya. “Sementara APBD Kota Bogor Rp2,5 sampai dengan 2,7 triliun saja,” lirih Rudy.
Artinya, untuk mewujudkan program yang bakal terintegrasi dengan LRT sesuai Perpres 55/2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ) ini perlu dibantu oleh pemerintah pusat ataupun provinsi. (YUD)
