Kemenangan yang Tak Patut Dirayakan! Asep Ahmad Solihin dan Perginya Bobotoh Sejati

“Tiga hari sebelum kejadian, dia beda. Enggak banyak bicara. Enggak banyak permintaan. Biasanya, kalau mau nonton Persib, almarhum selalu bergairah. Tapi kemarin seolah tidak ada,” jelasnya.

Gang sempit yang hanya bisa dilewati satu-dua kendaraan roda dua itu, di sana pula, berjajar sejumlah karangan bunga tanda belasungkawa di sepanjang jalan menuju rumah duka.

Sebelum jenazah tiba di kediaman, ambulans yang membawa jenazah Asep, diiringi para pelayat yang mengawal dari RS Sartika Asih sampai tiba di rumah duka.

Sejumlah ‘orang besar’ bertakziah ke rumah duka almarhum. Dari mulai para bobotoh hingga pejabat daerah. Begitupun dengan hadirnya jajaran manajemen dan perwakilan pemain dari klub kesayangan Asep, Persib Bandung.

Seusai melayat dan berdoa di pemakaman almarhum yang tak jauh dari rumah duka, Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Umuh Muchtar mengatakan, Asep Ahmad Solihin adalah bobotoh sejati.

“Dia bawa tiket resmi untuk nonton, dia Bobotoh sejati. Tapi karena sudah penuh dan memaksakan diri masuk ke dalam (stadion), akhirnya dia terjebak dan terjadilah musibah ini,” jelasnya.

Umuh menambahkan, kepergian sang bobotoh sejati, tentu memberi duka yang mendalam bagi para bobotoh dan seluruh pemain serta klub Persib Bandung itu sendiri.

Bersamaan, punggawa Si Maung Bandung, Erwin Ramdani yang menjadi wakil dari pemain Persib menyampaikan duka citanya. Bersama rekan setimnya, Frets Butuan, mereka menyempatkan berdoa langsung di makam Asep Ahmad.

“Saya pribadi dari pemain, perwakilan (Persib) mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya kepada keluarga yang ditinggalkan,” ucapnya usai bertakziah.

Dia mengharapkan supaya tragedi ini menjadi yang terakhir. Baik itu yang terjadi di Bandung maupun persepakbolaan di Indonesia.

Menurutnya, tak ada yang lebih penting ketimbang keselamatan diri sendiri. Dan sepak bola, kata Erwin, adalah sesuatu hal yang pada hakikatnya harus dinikmati.

“Sudah 2 tahun tidak ada penonton. Mungkin euforianya sangat tidak terbendung apalagi kemarin laga besar. Kita sebagai pemain hanya ingin memberikan yang terbaik, penampilan yang terbaik,” jelasnya.

Erwin mengungkapkan, bobotoh pun tak selamanya harus memaksakan diri ke stadion. Terdapat cara lain dalam mendukung para pemain berlaga.

“Tidak dengan memaksakan yang pada akhirnya merugikan (bobotoh). Saya harap pikirkan keselamatan dan masa depan,” pungkasnya.

Tak Ada yang Berjaga

Asep tidak sendiri saat tragedi itu terjadi. Seorang saudara dekat yang pergi bersamanya, Raihan, (25), bercerita bahwa sekira pukul 7 malam, pintu masuk telah ditutup dan tidak ada petugas keamanan yang berjaga.

“Gak ada panpel (panitia pelaksana). Gak ada polisi. Dari belakang merangsek ke depan, saya posisi di tengah antrean. Saya berada di depan almarhum,” jelasnya.

“Nah antrean yang depan jatuh. Otomatis saya ikut jatuh. Dari situ pagar yang di pinggir juga roboh ikut nimpa ke saya. Terus yang dari belakang merangsek ke depan, gak ada yang menyelamatkan, jadi terinjak terus,” imbuhnya.

Raihan menambahkan, dia sempat tidak sadarkan diri selama kengerian itu menimpa dirinya. Disaat siuman, dia tiba-tiba sudah berada di posko Palang Merah Indonesia terdekat.

“Di PMI dirawat. Saya dapat kabar almarhum sempat bareng sama saya jam 1 (dini hari). Jadi (selanjutnya) emang gak tahu kabar di mananya. Saya gak ingat apa apa,” ucapnya.

Dia dan almarhum Asep berangkat bersama dari rumahnya di Cibaduyut. Pada pertandingan Persib melawan Bali United, kata Raihan, almarhum tidak berkesempatan menonton.

“Cuman kemarin almarhum ngajak jadi bareng, tiket ada. Kami datang jam setengah 6 sore. Jadi jam 6 mulai ngantri masuk di Gerbang V,” ujar Raihan.

“Ada yang masuk sebagian, cuman sekira setengah jam 7, sudah ditutup. Gak ada banget Panpel. Asalnya dibuka cuma setelah jam 7 itu ditutup. Gak ada koordinir. Sudah saja bobotoh semua di situ, gak ada lagi yang ngatur,” tutupnya. (zar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.