Tiap Tahun Serangan Phising Sering Terjadi, Ini Sektor yang Paling Diincar

Jabarekspres.com – Melalui laporan terbaru Indonesia Anti-Phising Data Exchange (IDADX) yang dikelola oleh Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi), setiap tahun dilaporkan terjadi ribuan serangan phising oleh penjahat siber dan mayoritas menarget lembaga keuangan.

Yudho Giri Sucahyo, Ketua Pandi mengatakan, pihaknya mengumpulkan data phising dari beberapa sumber data seperti keanggotaan IDADX, laporan masyarakat, dan Netcraft.

“Selain itu, kami juga mengumpulkan data dari Anti-Phishing Working Group (APWG), yang mana IDADX sudah menjadi anggota sejak tahun lalu,” ujar Yudho.

IDADX mencatat per 21 Maret 2022 terdapat 32.296 laporan phising domain .id (dot id) dalam kurun waktu lima tahun terakhir yang dikumpulkan pada dashboard IDADX.

Dari data tersebut yang paling jadi incaran para penjahat siber atas aksi phising ini adalah lembaga keuangan.

Sementara itu, Muhammad Fauzi, Deputi Bidang Pengembangan, Riset Terapan, Inovasi, dan Teknik Pandi dalam kesempatan yang sama menambahkan, terkait kegiatan IDADX ini, Pandi juga ingin menegaskan komitmennya untuk memberikan laporan rutin kepada publik pada tiap kuartal.

Sehingga masyarakat dapat memantau dan mengetahui bagaimana perkembangan phishing dan dampaknya bagi masyarakat.

“Pada Q1 tahun ini kami mencatat terdapat 3.180 laporan phishing, yang mana sektor bisnis yang paling banyak menjadi sasaran adalah lembaga layanan keuangan. Dengan adanya Indonesia Anti-Phishing Data Exchange ini, kami berharap nama domain .id semakin dapat dipercaya oleh masyarakat,” jelasnya.

Pada kuartal satu ini, Januari menjadi bulan dengan kasus serangan phising tertinggi, mencatat 1.267 kasus. Pada bulan berikutnya terjadi penurunan kasus menjadi hanya 1.059 kasus. Lalu pada Maret catatan IDADX menunjukkan telah terjadi 1.037 kasus serangan phishing.

Dari laporan tersebut tampak lembaga keuangan menjadi sasaran utama serangan dengan mencatat 50 persen dari total kasus yang terjadi, disusul dengan E-Commerce atau retail (27 persen), aset kripto (11 persen), media sosial (5 persen), Internet Service Provider (5 persen), dan gaming (2 persen).

Masyarakat diharapkan lebih aware dengan kejahatan siber terutama phishing yang saat ini kian meningkat di tengah tumbuhnya digitalisasi.

Diketahui, phishing merupakan tindakan yang dilakukan untuk memperoleh informasi pribadi korban dengan menyamar sebagai pihak tertentu. (jawapos)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan