KH. Noer Ali di Mata Sang Cucu, Wali Kota Bekasi dan LDII

KH. Noer Ali di Mata Sang Cucu, Wali Kota Bekasi dan LDII
0 Komentar

KH Noer Ali memimpin laskar-laskar rakyat untuk bertempur merebut kemerdekaan, bahkan pernah menjadi Komandan Bataliyon Tentara Hizbullah Bekasi.

“Taktik hisbullah terus terkenang oleh anak dan cucu dan umat islam yang menghormatinya. Oleh karena itu, kita perlu menghargai jasa perjuangan pahlawan kita. Bersama KH Noer Ali, Mayor Hasibuan dan pejuang lainnya, kita harus meneladani dan mencontoh perjuangan mereka,” harapnya.

Rahmat Effendi mengatakan, cinta Tanah Air merupakan bagian dari iman dan implementasi perjuangan rakyat di masa kini. “Dengan cara meneladani jasa pahlawan, budaya lokal dan nusantara, menghargai antara suku bangsa itu sudah menjadi alat perjuangan di masa sekarang ini. Tidak hanya itu, rasa toleransi terhadap sesama umat beragama, dan Kota Bekasi harus ditumbuhkan,” pesannya.

Baca Juga:3 Pemain Liga Italia Jadi Incaran Newcastle United, Siapa Saja?Tak Masuk Daftar Pembongkaran PT KAI, Satu Rumah Warga Anyer Dalam Tergerus Beko

Senada dengan Rahmat Effendi, KH Khusnul mengatakan, masyarakat Indonesia jangan sampai melupakan perjuangan para ulama dalam berjuang kemerdekaan Indonesia.

“Jangan sekali-kali meninggalkan Sejarah atau disingkat Jasmerah adalah semboyan yang kerap diucapkan Soekarno. Namun, saya memiliki semboyan lain yakni jas hijau, jangan sekali-kali menghilangkan sejarah ulama,” ujar KH Khusnul.

KH Khusnul menceritakan, Sang Kakek setelah pulang dari Makkah pada tahun 1940, KH. Noer Ali mendirikan pesantren di kampung halamannya.

“Hal ini bertujuan untuk memajukan umat dari keterbelakangan yang mereka alami. KH. Noer Ali berkeyakinan bahwa kemajuan umat tidak dapat dicapai kecuali hanya dengan Pendidikan,” ceritanya.

“Saya sangat merasakan bagaimana kakek mendidik cucu nya, terutama dalam membaca Al Quran, Pendidikan adalah penting, ditambah peran orang tua dalam mendidik, megayomi dan membina. Ungkap KH Husnul,” imbuhnya.

KH. Noer Ali juga berkeinginan membentuk “kampung surga”. Yakni kampung yang anggota masyarakatnya mandiri secara ekonomi, dan secara agamis masyarakat bersandar kokoh kepada akidah, syariah dan akhlak, sekarang ini masih berdiri di ujung harapan dalam pembinaan umat islam. *

Laman:

1 2
0 Komentar