BANDUNG – Rencana Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Kota Bandung yang akan dilaksanakan kembali pada pekan kedua di bulan September, Kepala Sekolah SMA Negeri 7 Kota Bandung, Yanyan Supriatna menyatakan pihaknya sudah siap.
Dengan kesiapannya tersebut, Yanyan mengatakan bahwa di sekolahnya kini sudah memiliki fasilitas penunjang Protokol Kesehatan (Prokes) untuk bersiap menyambut Pembelajaran TatapMuka (PTM).
“Kalau untuk fasilitas penunjang, kita memiliki sarana lain yang bisa menjamin prokes (protokol kesehatan) di sekolah, antara lain adanya handsanitaizer di tiap ruangan kelas, kemudian kita sudah menyiapkan tempat cuci tangan, dan kita juga punya bilik disinfektan. Jadi kalau ada tamu atau siswa yang datang itu harus melalui bilik itu dulu, dan yang terakhir kita akan aktifkan kembali Unit Kesehatan Sekolah (UKS),” ucapnya saat ditemui di SMAN 7 Bandung, Jalan Lengkong Kecil, Kota Bandung, Sabtu (4/9).
Baca Juga:Penyebab Laki-Laki Sulit Dipercaya Jadi Korban Pelecehan SeksualRocky Gerung Tak Percaya Jokowi Tolak 3 Periode: Harus Dibaca Secara Terbalik
Sementara itu, untuk fasilitas UKS, SMA Negeri 7 akan bekerjasama dengan puskesmas setempat dalam menangani kesehatan siswa.
“Untuk di UKS, kalau misalnya sudah terjadi (Pelaksanaan PTM), kita akan bekerjasama dengan Puskesmas setempat untuk meminta bertugas di UKS. Dan saya rasa itu telah memadai untuk pelaksanakan PTM,” ucapnya.
Untuk masalah perizinan dari orang tua siswa, lanjut Yanyan, siapapun berhak mengizinkan atau menunda putra dan putrinya untuk mengikuti kegiatan PTM. Pembelajaran Daring dari sekolah akan tetap dilakukan khusus siswa yang belum mendapatkan izin dari orang tua mereka.
“Tapi yang terpenting adanya izin dari orangtua, maka selama orang tua tidak mengizinkan atau masih khawatir, anak tersebut akan masuk ke dalam kelompok PJJ (pembelajaran Jarak Jauh),” ujarnya.
Kegiatan pembelajaran juga tidak akan dilakukan secara serentak, melainkan secara pembagian kelompok siswa dengan metode blendid.
“Nanti metode yang akan diberikan dengan cara blendid atau setengah-setengah. Jadi nanti ada kelompok misalnya tiap minggunya ada yang belajar di sekolah dan ada yang belajar di rumah,” pungkasnya. (mg4/wan)
