oleh

Insentif Nakes Tak Kunjung Tiba.

BANDUNG – Berjuang di garda terdepan dalam penanganan pasien Covid-19 sangat lah beresiko. Tidak sedikit para dokter, nakes dan relawan berguguran. Memang sangat beresiko, tapi itu yang seharusnya dilakukan.

Sang garda terdepan kini tinggal nama esensi. Terdepan, tapi tidak di depankan. Lir ibarat Habis Manis Sepah di Buang.– digunakan dirawat dengan baik, tetapi bila tidak dipergunakan lagi dicampakkan begitu saja.

Mengapa tidak. Di awal pandemi datang, pemerintah kewalahan hadapi pandemi ini. Tak ada yang paling depan, kecuali para dokter, nakes dan relawan.

Baca Juga:  Puluhan Warga Positif COVID-19, Sinyal Cimahi Bakal Masuk Zona Merah?

Rela tidak tidur. Memakai baju Alat Pelindung Diri (APD) dengan lama. Mendapat sanksi sosial. Karena menangani pasien Covid-19. Meninggalkan keluarga demi tugas mulia. Bahkan rela mati demi menyelamatkan.

Kini penyebaran Covid-19 melandai. Perhatian terhadap relawan nakes pun kian memudar. Bukan hanya apresiasi saja, melainkan dari hak dan kewajibannya untuk pun abu-abu — Bagai Pungguk Merindukan Bulan.

Nistya Ayuningtyas Herdiani relawan dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) mengaku terkatung-katung soal insentif itu. Sebab, selama tiga bulan menjadi relawan belum menerima insentif itu.

Baca Juga:  Menko Airlangga: Tren Peningkatan Covid-19 Harus Segera Dikendalikan

“Kita sudah melakukan kewajiban sebagai relawan. Kalau saya sih 3 (tiga) bulan dari Januari. Kita sudah di berhentikan terakhir bulan maret. Tapi belum ada insentif dari sana (Kemenkes),” ucap Tya saat dihubungi Jabar Ekspres, Rabu (28/4).

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Baca Juga