Hindari Formalin dan Boraks, Akademisi Unpad Dorong Nelayan Agar Gunakan Pengawet Ikan Alami

Hindari Formalin dan Boraks, Akademisi Unpad Dorong Nelayan Agar Gunakan Pengawet Ikan Alami
Ketua Tim Inovasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof Keri Lestari (tengah) seusai diskusi  bertajuk "Solusi Meningkatkan Ekonomi Nelayan di Tengah Pandemi Melalui Produk Inovatif", di Bandung, Jumat. (Antara/Ajat Sudrajat)
0 Komentar

Direktur Pemasaran PT Sinargi Organik Globalindo Restu Kusumah mengatakan produk ini diklaim menjadi solusi permasalahan utama dalam ranah produksi ikan laut segar.

“Harga satu liter PIO dibanderol Rp 150 ribu untuk mengawetkan ikan sebanyak 250 kilogram. Ini bisa menjadi pengganti formalin yang tidak baik untuk kesehatan,” ujar dia.

Bukan dari zat kimia apalagi zat berbahaya, pengawet ikan alami ini terbuat dari selada air, kesemek, bayam, dan garam, yang difermentasikan.

Baca Juga:Dinkes Siapkan 21 Faskes untuk Layani Vaksin Covid-19Barbie Kumalasari dan Galih Ginanjar Segera Rujuk?

Inovasi pengawet dari bahan yang aman menjadi hal yang krusial dalam menjaga perekonomian nelayan di tengah pandemi COVID-19.

Jangan sampai para nelayan hanya berpatok pada formalin atau zat kimia berbahaya dalam mengawetkan ikan dan hasil laut.

Pihaknya telah memasarkannya ke berbagai daerah di Indonesia dan menjamin ketersediaan produknya untuk tetap terjangkau.

Kualitas ikan yang terjaga secara langsung meningkatkan produksi nelayan serta tingkat konsumsi ikan dan hasil tangkapan laut bagi masyarakat.

Selain itu, ia menyebut membuka peluang bagi distributor untuk memaksimalkan potensi pasar di 34 provinsi di Indonesia dengan nilai hingga Rp56 miliar per tahun dari industri kelautan.

“PIO ini tidak memiliki kadaluarsa, namun sesuai anjuran pemerintah, kadaluarsanya dibatasi hingga dua tahun,” kata dia. (Antara)

0 Komentar