Pria yang akrab disapa Kang Emil itu mengakui, kesejahteraan petani masih jauh dari harapan. Menurutnya di lapangan yang ia temui, ada petani yang mengelola lahan dua hektar milik sendiri namun pendapatan per bulan hanya Rp 3 juta.
”Ternyata jual padi dan gabahnya Rp7 ribu ke tengkulak, dijual di kota Rp 12 ribu. Yang menikmati Rp 5 ribunya orang-orang di tengah-tengah yang tdiak berkeringat. Jadi sistem perdagangan harus diperbaiki,” tuturnya.
Karena itu pihaknya berencana akan me-launching program petani milenial awal 2021 mendatang. Sebelum program diluncurkan pihaknya memerintahkan Sekda Jabar bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk mendata lahan-lahan nganggur yang ada di Jawa Barat.
Baca Juga:Ridwan Kamil: Petani Milenial Bisa DireplikasiPilkada di Dua Daerah Memanas
Lahan tersebut bisa milik pemerintah, BUMN hingga swasta. Nantinya, lahan ini akan dipinjamkan negara untuk program petani milenial. Program ini juga nantinya akan memiliki rantai pasok yang terjaga dimana hasil pertanian akan disalurkan oleh pemerintah pada offtaker.
Program ini juga akan menggenjot para petani muda mengedepankan teknologi dalam mengelola produk pertanian. ”Saya ingin lihat drone terbang bawa pupuk cair disemprot,” ujarnya.
Ditarget mencetak 1.000 petani milenial, Emil memastikan, akan ada seleksi tersendiri bagi para peserta. Pihaknya belum menargetkan raihan statistik mengingat pada 2021 baru merupakan tahun edukasi agar anak muda mau menjadi petani milenial. (rls)
