BANDUNG – Polemik soal pergantian nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Tatar Sunda makin meluas bahkan memicu perpecahan. Adanya usulan tersebut tidak semata-mata hanya keinginan belaka. Mungkin, sudah dilakukan kajian oleh kongres Sunda melalui naskah akademisnya.
Dari segi geografi, tidak bisa dipungkiri bahwa pulau Jawa bagian barat sudah tak lagi Jawa Barat, melainkan Banten. Banyak kalangan tokoh pun menilai porsi pembagian daerah yang dilakukan pemerintah terdahulu, sudah tak lagi relavan untuk disebut lagi Jawa bagian Barat (Jawa Barat).
Terlebih, daerah Jabar tidak semuanya bersuku Sunda. Melainkan ada Jawa dan betawi. Meski Cirebon masuk pada wilayah Jabar, namun tak berarti penduduknya Sunda, bahkan bisa dikatakan Jawa, sebab berdampingan dengan perbatasan Jawa Tengah. Pun halnya betawi, di daerah Bodebek yang berdekatan dengan DKI Jakarta.
Baca Juga:Jumlah DPT Pilkada Kabupaten Bandung MenurunUU Cipta Kerja Bakal Pengaruhi Perda
Melihat hal tersebut, rasanya penulis ingin membuat sebuah catatan mengenai sudut pandang dari pakar pemerintahan, pakar ekonomi dan budayawan terhadap usulan Provinsi Jawa Barat tersebut. Apakah perlu Jawa Barat berganti nama menjadi Tatar Sunda?
Budayawan sekaligus aktor, Budi Dalton mengatakan, polemik pergantian nama provinsi harus digencarkan sosialisasinya. Sebab, masalah meluas, dalam artian masyarakat sudah terbiasa dengan pemahaman-pemahaman bahwa sunda sebagai poros budaya.
Ada juga jika melihat peta geologi lama, kata dia, penamaan Sunda itu sebuah wilayah yang sangat besar. Artinya, harus ada naskah akademis.
“Tapi naskah akademis setahu saya udah dibuat. Dan ini juga sudah lama dari Desember tahun lalu wacana itu sudah ada. Lalu teman-teman di kongres Sunda juga sudah infilterasi ke tempat-tempat lain,” kata Budi kepada Jabar Ekspres, Kamis (15/10).
“Artinya tinggal ada satu kesepakatan, tentu yang kontra juga banyak. Karena melihat dari sudut pandang yang mana tadi. Ada yang mengkhawatirkan nanti Cirebon tidak mau bergabung, gitu kan. Lalu betawi tidak mau bergabung. Berarti kita melihat dari poros budaya kalau begitu,” imbuhnya.
Jika dilihat pemetaannya geografis tentu bukan begitu. Atau memang ada nama lain, ucap dia, yang mungkin diterima. Misalnya; Pasundaan (Pasundan) atau mungkin Parahyangan.
