CIMAHI – Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Cimahi mengungkapkan, hewan kurban yang dijual tahun ini masih didominasi dari luar daerah. Sedangkan hewan kurban lokal hasil peternak Kota Cimahi hanya sekitar 10 persen saja.
Kepala Bidang Pertanian pada Dispangtan Kota Cimahi, Mita Mustikasari mengatakan, untuk sapi kebanyakan didatangkan pedagang dari luar Jawa Barat. Seperti Gunung Kidul dan Madiun. Sedangkan domba dominan berasal dari Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Garut, Cianjur hingga Tasikmalaya.
”Kalau hewan kurban lokal Cimahinya kaya sapi dari wilayah Cipageran itu paling 10 persen,” kata Mita saat ditemui, Senin (3/8).
Baca Juga:Wahyu Dituntut Delapan TahunKeluhkan PJJ, Anggota DPR Bantu Siswa Miskin
Dikatakan Mita, data itu diperoleh setelah pihaknya melakukan berbagai tahapan pemeriksaan terhadap hewan kurban. Dari mulai pemeriksaan di lapak penjual yang dilakukan sejak tanggal 20 hingga 28 Juli 2020. Hasilnya, tercatat ada 2.090 ekor hewan diperiksa petugas.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, ditemukan sebanyak 145 ekor hewan kurban yang sakit dan 226 yang kurang umur. Hewan kurban yang sakit dan tidak cukup umur itupun tidak disarankan untuk dijual. ”Kalau jumlah hewan yang sehat dan memenuhi syarat sebanyak 1.705 ekor,” jelasnya.
Kemudian pihaknya melakukan pemeriksaan ante mortem (sebelum disembelih) DKM yang tersebar di Kota Cimahi pada 30 sampai 31 Juli lalu. Tercatat ada 2.059 ekor yang diperiksa. Rinciannya, sapi sebanyak 832 ekor domba sebanyak 1.224 ekor dan kambing 3 ekor.
Dari hasil pemeriksaan anter mortem itu, terang Mita, pihaknya menemukan 17 ekor sapi, 142 domb dan 1 ekor kambing yang belum cukup umur. ”Lalu ada 27 ekor yang sakit. 13 domba terkena orf, 13 domba terkena pink eye dan 1 sapi kena caplak,” tuturnya.
Pada 31 Juli sampai 1 Agustus pihaknya melakukan pemeriksaan post mortem (sesudah disembelih) di DKM. Total ada 3.383 ekor hewan yang diperiksa. Rinciannya, sapi sebanyak 1.302 ekor, domba sebanyak 2.072 ekor dan kambing 9 ekor. Hasilnya, ungkap Mita, 28 ekor sapi dan 43 ekor domba terkena cacing hati. Ada juga 1 ekor sapi dan domba yang terkena pneumonia, 1 ekor sapi terkena necrosis serta 2 ekor sapi terkena sorisis hati.
Meski dalam pemeriksaan post mortem ada hewan kurban yang terkena penyakit, lanjut Mita, namun masih bisa dikonsumsi karena tidak menular kepada manusia. ”Jadi dagingnya masih aman untuk dikonsumsi. Tapi harus dibersihkan dulu,” pungkasnya. (mg3/rus)
