Dampak Pembangunan Kereta Cepat, Rumah Warga Terisolasi

Dampak Pembangunan Kereta Cepat, Rumah Warga Terisolasi
TENGAH DIGARAP: Dua orang perempuan saat menunjukkan miniatur transportasi Kereta Cepat yang akan berdiri di Indonesia dengan jarak tempuh Jakarta-Bandung. (FOTO ILUSTRASI)
0 Komentar

Sebelumnya, kondisi rumah rusak juga dirasakan oleh warga Kompleks Tipar Silih Asih RW 13, Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Warga mengaku resah dengan aktivitas pengeboman Gunung Bohong untuk kepentingan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Linda,45, warga RT 4 mengatakan, aktivitas pengeboman untuk pembuatan tunnel 11 itu membuat dinding rumahnya retak-retak. Retakan paling parah terlihat di kamar mandinya. Cahaya matahari bahkan menyelinap dari retakan yang menganga itu.

“Kalau tidak salah seminggu yang lalu, ketika saya mandi. Ada suara ledakan diikuti getaran, tak lama kemudian setelah keluar muncul retakan itu,” kata Linda

Baca Juga:Marah BesarePaper Jabar Ekspres Edisi 30 Juni 2020

Menurut Linda, dinding yang retak itu pernah diperbaiki dua kali oleh suaminya. Namun, karena pengeboman susulan retakan itu kembali muncul. “Saya punya anak, khawatir kalau sampai menimpa anak saya. Sekali lagi ada ledakan mungkin bisa roboh,” ucapnya.

Jarak antara mulut tunnel 11 dengan kompleks tersebut berkisar 1 kilometer. Kendati demikian, getaran dari pengeboman berdampak ke 120 rumah dengan 500 jiwa yang berada di kaki Gunung Bohong itu. (mg6/drx)

[/ihc-hide-content]

0 Komentar