APD Ijon

Dia menyerahkan sejumlah uang kepada saya. Saya pun cari-cari di mana bisa beli APD. Kalau pun harus impor bagaimana caranya.

Jaringan saya di Tiongkok saya hubungi. Mereka sudah siap membantu. Tapi akhirnya saya menghubungi seorang teman yang punya pabrik tekstil. Di Solo.

Saya tahu, di Tiongkok pabrik popok bayi pun diubah menjadi pabrik masker. Itulah yang terjadi saat Covid-19 mewabah di sana.

Tentu pabrik tekstil punya kemampuan untuk berubah jadi produsen APD. Dalam kapasitas yang besar.

Ternyata saya telat tahu. Pabrik tekstil tersebut, Sritex, juga sudah mulai memproduksi APD. Belakangan.

Saya pun langsung menghubungi bos besarnya. Saya pun sudah bisa memesan APD di Sritex. Tentu, harus kirim uang dulu. Setelah itu barulah APD-nya dibikinkan. APD pesanan itu baru bisa diterima dua minggu setelah uang dikirim.

Saya pun langsung mengirim uang. Kini saya lagi menunggu kiriman APD tersebut.

Harganya memang Rp 1 juta/buah. Tapi bisa dicuci 10 kali –dengan air panas 40 derajat. Lalu disetrika dengan tingkat panas medium.

Saya pikir ini lebih murah daripada Rp 250.000 sekali pakai. Made in Indonesia pula.

Tentu pesanan saya ini amatiran. Hanya sesuai dengan jumlah uang yang ada.

Tapi setidaknya kita sudah lebih tenang. Ada pabrik APD di dalam negeri. Dengan kapasitas 3000 buah/hari. Yang masih bisa ditingkatkan menjadi 5000 buah/hari. Berarti sebulan bisa produksi 150.000 potong.

Tidak ada alasan lagi bagi siapa pun untuk tetap menggunakan jas hujan. Semoga juga tidak menjadi isu lagi: dokter yang tidak dilengkapi APD tidak akan diizinkan menangani pasien Covid-19 –seperti yang dinyatakan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Tentu, APD juga harus untuk perawat. Jumlah perawat yang tertular jauh lebih besar dari dokter. Pun di Tiongkok.

Di Asia, perawat lebih menderita –pun secara batin. Pun di Singapura. Pun di India. Contohnya di Jakarta itu: perawat diminta pindah tempat kos. Dianggap akan menularkan penyakit.

Di Singapura perawat sulit menyegat taksi. Media di Singapura menulis pengalaman itu. Sampai taksi yang ke-5 pun belum mau.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan