oleh

 Siswa Yang Bagja, Lahir dari Guru yang Bagja

Kemudian, materi ”Mengapa Remaja Suka Memberontak?” oleh Ifa H. Misbach (Psikolog, Dosen Universitas Pendidikan Indonesia UPI).

Lalu ”Strategi Inovatif Penguatan Pendidikan Karakter di SMAN 1 Lembang” oleh Drs Suhendiana Noor M.MPd. dan ”Komunikasi Membangun antara Guru dan Orangtua” oleh Aisya Yuhanida Noor M.Psi (Psikolog, Trainer dan Penulis Buku).

”Antusiasme peserta sangat besar. Di luar prediksi. Padahal kami tidak melayangkan surat penugasan, hanya membuka pendaftaran di media sosial. Hampir 27 kabupaten kota, pernah ikut dalam class series yang kami gelar,” tutur perempuan yang akrab disapa Wita itu.

Dia menyebutkan, para guru yang hadir sepenuhnya inisiatif sendiri. Menggunakan biaya pribadi atau mengusahakan dari sekolah. ”Dan Alhamdulillah-nya, banyak kepala sekolah yang mendukung dan mengirim para gurunya di class series,” ujarnya.

Disinggung mengenai output yang diharapkan dari class series tersebut, Wita mengaku, ingin melipatgandakan dampak dari para peserta kepada guru-guru di luar pelathan. ”Kami ingin Jabar Masagi ini dihayati dan dipraktikan oleh guru-guru yang tidak terbatas yang dipanggil ke pelatihan,” ucapnya.

”Harapan lainnya, mereka saling menguatkan dalam komunitas Guru Masagi agar terus konsisten,” sambungnya.

Ditanya soal tantangan mengaplikasikan praktik baik Jabar Masagi di 27 kabupaten kota di Jawa Barat, Wita menilai, kemerdekaan guru menjadi salah satu penghambatnya. Sebab, banyak guru yang beranggapan, tidak berdaya melakukan perubahan.

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

1 komentar

  1. coba ceritain ke bapak, kenapa kamu bisa telat datang kesekolah?
    nah ini yang memicu anak untuk membuat alasan yang berbelit dan cendrung berbohong. padahal kita tahu bahwa kalau itu terjadi di Dunia Usaha dunia industri dan dunia kerja, mereka ga akan bisa beralasan apapun. kalau dia pegawai kontrak, maka Insya Allah dia tidak akan mendapaat kontrak berikutnya, bila dia pegawai tetap, insya Allah dia akan mendapat teguran, kalau dia pengusaha, maka dia akan kehilangan klien.
    jd harusnya bagaimana?

Baca Juga