Ditunggangi Preman Bayaran

Ditunggangi Preman Bayaran
BERIKAN SEMANGAT: Puluhan anggota Brimob yang melakukan pengamanan demontrasi sedang beristirahat untuk melepas lelah setelah mengendalikan massa sambil diberikan motivasi dan semangat oleh Kapolda Metrojaya.
0 Komentar

Argo menjelaskan dari 3 TKP tersebut, pihanya melakukan penangkapan terhadap se­kelompok massa yang mela­kukan rusuh. ”Ada 257 ter­sangka yang membuat keru­suhan untuk di Bawaslu ada 72, kemudian Petamburan 150 orang, dan Gambir ada 29 tersangka. Jadi keseluruhan 257 orang,” tuturnya.

Dia menjelaskan penang­kapan dilakukan, karena me­reka melawan petugas yang sedang bertugas dan mela­kukan pengrusakan ingin masuk ke Bawaslu. ”Sedang­kan di Petamburan yaitu, penyerangan mobil dan as­rama (Brimob). Pengrusakan di Gambir ada barang bukti bendera hitam, mercon atau petasan,” ucapnya

Selain itu, pihaknya juga mengamankan sejumlah am­plop yang berisi uang tunai dari beberapa orang saat ke­rusuhan pada 22 Mei dini hari. Jumlah uang di dalam amplop, kata Argo berkisar Rp200-500 ribu.

Baca Juga:Pemkot Siap Berkolaborasi dengan Jajaran SenimanSediakan Rp 500 Juta Untuk THR CPNS

“Ini berisi uang semua. Ada uang 5 juta juga. Ini untuk operasional,” kata dia.

Ditempat berbeda, Men­teri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Pol­hukam) Wiranto, mengatakan kerusuhan yang terjadi pada 22 Mei dini hari di kawasan Tanah Abang dan Petamburan merupakan ulah massa bay­aran.

”Pelaku kerusuhan meny­erang petugas asrama polisi yang ditinggali keluarga ang­gota Brimob, membakar mo­bil, dan aksi brutal lainnya. Tujuannya menciptakan ke­kacauan dan jatuh korban,” kata dia.

Untuk itu dia meminta agar masyarakat jangan terkecoh dan jangan sampai memojo­kan kepada pemerintah yang seolah-olah bertindak se­wenang-wenang diktator, aparat seenaknya lawan ra­kyat. ’’Jangan terkecoh hasu­tan itu,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Ka­polri Jenderal Tito Karnavian membenarkan bahwa massa yang menciptakan kericuhan adalah kelompok bayaran yang ditugaskan membuat onar.

”Mereka anarkis, menyerang. Mereka menciptakan keru­suhan dan kejahatan, krimi­nal menyerang petugas, mem­bakar, ini beda dengan pe­serta aksi di depan Bawaslu,” kata Tito.

Tito meminta publik tidak mem-framing aksi damai ke­mudian dibubarkan dengan langkah-langkah represif oleh polisi dan TNI.

Baca Juga:Tidak Hiraukan Rekomendasi PSU, KPU DilaporkanKenaikan PBB Dikeluhkan Masyarakat

”Dua segmen berbeda, seg­men pertama aksi damai diakomodir selesai baik sama-sama salat dengan petugas. Kedua adalah aksi anarkis oleh kelompok orang menyerang. Sengaja ciptakan kerusuhan, anggota juga ada terluka ter­kena batu, mirip panah,” tu­turnya.

0 Komentar