Dosen Ilmu Politik di Universitas Islam Al Azhar Indonesia tersebut menerangkan, meskipun bisa dilakukan perbaikan dan tidak mengubah suara, kesalahan yang terus berulang juga harus segera disikapi KPU.
Terlebih, Badan Pegawas Pemilihan Umum (Bawaslu) dengan tegas menyatakan jika KPU terbukti melakukan pelanggaran tata cara dan prosedur penginputan. Menurut Ujang, KPU harus berani meminta maaf kepada rakyat Indonesia perihal kesalahan prosedur tersebut. Permintaan maaf, tidak akan mendelegitimasi penyelenggara pemilu.
”Ke depan, saya rasa untuk Situng sebaiknya tidak lagi digunakan. Berkaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, hal ini terus menuai polemik. Apalagi jika ada wacana perubahan sistem pemilu di Indonesia. Menggunakan e-voting misalnya. Saya rasa Situng sudah harus ditinggalkan,” paparnya.
Baca Juga:Pemkot Beri Toleransi PKLSemarakkan Bulan Ramadan dengan Culinary 2019
Dikatakan, Situng harus menjadi evaluasi tersendiri. Jika terus menuai polemik, khususnya bagi peserta pemilu, lebih baik KPU menggunakan penghitungan manual yang bisa diakses masyarakat.
Berbeda dengan Ujang. Pengamat Politik Emrus Sihombing menegaskan, jika Situng harus terus dilakukan. Menurutnya, dengan mengakses Situng, masyarakat yang telah memberikan hak suaranya pada 17 April lalu bisa mengetahui perolehan suara sementara. Meskipun tidak bisa dijadikan acuan, tetapi bisa menjadi gambaran.
”Sekarang kalau tidak ada Situng, siapa yang harus kita percaya. Apalagi masyarakat yang sudah memilih pasti ingin tahu perolehan suara jagoannya. Jika Situng dihentikan, tentu akan merenggut hak masyarakat untuk mengetahui penghitungan secara cepat dari lembaga penyelenggara pemilu,” kata Emrus.
Akademisi Universitas Pelita Harapan ini menambahkan, sudah menjadi rahasia umum jika terjadi kesalahan input yang dilakukan operator Situng. Emrus menyarankan baik ketua ataupun komisioner KPU tampil ke depan meminta maaf atas kesalahan yang telah dibuat oleh petugas Situng.
”Saya rasa itu lebih bijaksana meminta maaf ketimbang menghentikan Situng. Toh, kesalahan bisa diperbaiki. Hanya saja, jika terus terulang memang menjadi sesuatu perhatian,” imbuhnya. (khf/fin/rh)
