Desa Wisata Citos Terbengkalai

Desa Wisata Citos Terbengkalai
Nur Aziz/Jabar Ekspres
 RUSAK TAK TERURUS : Ketua harian Kelompok Desa Wisata Citos, Yuyu Yusiati, memperlihatkan tempat yang dulu pernah banyak dikunjungi orang kini harus terbengkalai dan rusak tak terurus.
0 Komentar

CIMAHI – Ditengah keinginan Pemerintah Kota Cimahi mengembangkan dan memperkenalkan destinasi wisata dengan keunggulan Kota militer dan Kampung adat Cireundeunya. Ternyata ada juga tempat yang sebenarnya bisa dijadikan tempat wisata. Namun sayang tempat yang dulu pernah banyak dikunjungi wisatawan untuk menonton kesenian ketangkasan adu domba itu, tak sedikitpun mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Cimahi.

Tempat seluasa satu hektar bernama Kawasan Desa Wisata Cimahi-Torobosan (Citos) yang berada di Kampung Torobosan RT 02 RW 12 Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara Kota Cimahi itu, saat ini harus terbengkalai karena tak terawat. Bahkan sejumlah bangunan yang ada terlihat rusak, termasuk bangunan utama berupa bale juga rusak di bagian atap karena tertimpa pohon.

Ketua harian Kelompok Desa Wisata Citos, Yuyu Yusiati mengungkapkan, lahan milik Pemkot Cimahi itu, mulai disiapkan menjadi tempat desa wisata sejak tahun 2015, dan hanya bisa bertahan hanya dua tahun saja sejak dijadikan tempat wisata.

Baca Juga:TKD 01 Jabar Bentuk Satgas Anti HoaxSekda Minta Pejabat Baru Langsung Bekerja

”Masa jayanya pada 2016-2017. Dulu di sini bikin saung-saung. Lalu ada event ketangkasan domba yang bikin lokasi jadi ramai,” ungkap Yuyu, saat ditemui di lokasi, Rabu (27/3).

Menurutnya, dari sejak ada Citos baru dua kali menyelenggarakan event ketangkasan domba. Sebab, dari event itu sepertinya pengelola tidak mendapatkan untung tapi malah mengalami kerugian.

”Mungkin karena biaya operasional lebih besar jadi malah rugi. Padahal yang datang dari mana-mana untuk liat adu domba itu,” ujarnya.

Karena ketangkasan domba tidak menguntungkan, lanjutnya, maka pengelola bekerjasama dengan penduduk sekitar akhirnya membuat semacam pasar tumpah dan sempat ramai dikunjungi wisatawan.

”Di pasar minggu itu ramai yang jualan juga banyak dan segala macam mulai dari makanan seperti timbel, nasi merah-nasi liwet. Sampai kita bikin panggung hiburan yang biasanya diisi musik dangdut,” imbuhnya.

Namun kondisi tersebut juga tak bertahan lama. Sebab, saat itu mulai memasuki bulan puasa, sehingga pasar minggu pun berhenti dan akhirnya vakum sampai sekarang.

”Saya berharap pemerintah bisa kembali menghidupkan Desa Wisata ini. Inginnya diperbaiki dan diramaikan kembali. Kalau inginnya sih jadi tempat wisata yang sedang digemari ada tempat foto-foto (spot selfie) flyng fox, dan lainnya. Sambil dipelihara, jadi kan masyarakat juga bisa kena imbas perekonomian jadi hidup,” tandasnya.

0 Komentar