oleh

Toang, Lubang, dan Perempuan

/1//

KETIKA kujelaskan padamu, kita berada di Toang, kau tampak bingung. Bahkan tanganmu sempat mengaduk-aduk rambutmu yang tebal mirip buku Kamus Besar Bahasa Indonesia itu berulang kali. Aku terkekeh menyaksikannya. Tergelak melihat wajahmu dan caramu melihatku. Lalu terlihat rona putus asamu, karena istilah yang kukatakan itu tak kautemukan padanannya. Jangankan kau yang bukan orang Indramayu, aku yang terlahir di pantai utara pun, tak jua mendapatkan padanan kata yang sesuai untuk mewakilinya.

Aneh memang kata Toang itu. Dahulu saat aku sekolah dasar, sempat kutanyakan pada guru kelasku sinonim Toang. Katanya, adoh mana adoh mene[1], mirip orang berkelakar jawabannya. Tempat itu biasanya ada warung-warung tempat perempuan-perempuan sundal[2] menerima pesanan cinta dari sopir-sopir truk yang biasa mampir.

“Telembuk[3] Pak?” sahutku meyakinkan.

“Kamu sudah tahu telembuk?” tanya pak Guru berang.

“Ibu saya yang bilang, Pak.”

“Oh, ya?”

“Ketika mereka ribut-ribut, katanya Ayah rela meninggalkan ibu karena perempuan sundal. Terus saya tanya, perempuan sundal itu apa Bu? Telembuk, kata ibu sambil membentakku kesal.”

“Iya, makanya jangan sekali-kali kalian mendekati tempat haram itu,” ucapnya seperti ingin memastikan kalau tempat itu adalah wadah kumpulan orang berdosa.

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga