Dia mencontohkan lembaga penyalur BBM satu harga dibangun di Sorong, Papua Barat. ”Ya okelah di Sorong, satu harga. Coba kalau dibawa ke daerah-daerah pelosok di Papua lainnya oleh pengecer dan dijual ke masyarakat, apakah tetap satu harga?” tegasnya.
Gus kemudian mencontohkan di daerah pemilihannya, yakni Labuhanbatu Selatan, Pinang, Sumatera Utara, yang notabenenya masih daerah perkotaan, harga BBM di tingkat pengecer jauh dari harga di tingkat penyalur yakni mencapai Rp10-11 ribu untuk premium per liternya. Sedangkan di tingkat penyalur harga premium per liternya di kisaran Rp6.000.
”Itu saya temui saat saya reses. Di daerah Labuhanbatu Selatan di dapil saya, di tingkat pengecer Rp10-11 ribu premium, padahal itu di daerah kota,” ujar Politisi dari Partai Gerindra itu.
Baca Juga:Verifikasi Data Pedagang PAB Harus TransparanJangan Kasiani Aku
Ditambahkannya, kebijakan BBM ini akan menjadi sorotan masyarakat Indonesia pada debat calon presiden Minggu (17/2) nanti, karena BBM adalah masalah yang sangat sensitif bagi kehidupan masyarakat Indonesia. ”Sekali lagi, terobosan kebijakan untuk pengendalian harga BBM untuk periode pemerintahan 2019-2024 pun sangat dinantikan masyarakat,” terangnya. (fin/ful/rie)
