oleh

Disambut Warga dengan Upacara Adat

Namun, apa daya, kondisi ekonomi memaksa mereka memprioritaskan kebutuhan perut ketimbang mata. Saat itulah Denny dkk hadir di tengah-tengah mereka. “Ke­tika dipakaikan kacamata, baru mereka sadar, oh ter­nyata jadi terang ya,” ucapnya.

Denny menuturkan, 1000ma­ta tidak memberikan kaca­mata kepada semua orang tak mampu. Pihaknya memba­tasi usia penerima kacamata. Pertama, anak-anak usia 7-15 tahun. “Karena mereka punya distance (jarak) pupil yang mirip-mirip. Sehingga kami bisa sediakan kacamata yang mirip-mirip,” ucapnya. Apa­lagi, anak-anak merupakan usia sedang semangat-seman­gatnya belajar. Kedua, lansia yang dimulai dari usia 45 tahun. Rata-rata penglihatan mereka mulai berkurang se­hingga untuk jarak dekat su­sah melihat.

Baca Juga:  Ini Fakta Covid-19 Varian Baru dari India yang Mulai Menyebar di Indonesia

Kasus anak dengan minus tinggi banyak dia jumpai di perkotaan. Denny mengana­lisis, penyebab mata minus di kalangan anak-anak adalah gaya hidup. Misalnya, pe­rilaku yang salah dalam me­nonton televisi atau bermain gadget. Juga, kurangnya nu­trisi akibat terlalu sering men­gonsumsi makanan instan. ‘’Kalau di daerah terpencil, malah jarang kami temukan anak-anak yang minus tinggi,’’ lanjutnya.

Karena itu, di pelosok, Den­ny dkk selalu fokus menanga­ni lansia. Mereka yang masih usia produktif hanya diizin­kan mengikuti pemeriksaan mata secara gratis. Namun, mereka tidak akan mendapat donasi kacamata.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga