oleh

Penyileukan Ingin Bebas Dari Banjir

Dia mengaku, pada awal pembentukan komunitas ini mendapat pertentangan dari warga. Tapi setelah diyakinkan komunitas ini penting bagi penanganan banjir akhirnya warga sadar.

’’Komunitas Dona Safitri telah berkolaborasi dengan jurig cai dan pasukan katak dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Bahkan sampai mendatangkan alat berat untuk mengurangi sedimentasi,” terangnya.

Untuk mengatasi bencana kembali terulang pihaknya mengajukan dua lokasi untuk menjadi danau retensi sebagai tempat penampungan air dan pengendali banjir. Lokasi itu adalah 5 hektare di pintu masuk perumahan Bumi Panyileukan dan 7.000 meter persegi di ujung dekat perbatasan dengan kecamatan Gedebage.

Baca Juga:  Panglima TNI Marsekal Hadi Didesak Dicopot, Ternyata Bukan Hanya Karena KRI Nanggala Tenggelam

“Sudah ada komunikasi antara komunitas warga dengan DPU dan Komisi B. Alhamdulillah direspon positif.. Mudah-mudahan Pemkot Bandung bisa merealisasikannya melalui dinas atau instansi terkait,” harapnya.

Dalam jangka panjang, Hamdani berharap pembangunan danau retensi di kawasan masjid terapung Al-Jabbar dan ground tank di depan pasar induk Gedebage terealisasi. Keduanya akan sangat berpengaruh terhadap besarnya limpasan air hujan yang masuk ke wilayah Panyileukan.

Baca Juga:  Anak Awak KRI Nanggala-402 Akan Dijamin Pendidikannya, Ini Penjelasan Prabowo

“Kami katakan banjir kalau air sudah di atas satu meter. Kalau masih di bawah lutut, itu namanya cileuncang. Begitupun manakala air tidak masuk ke rumah warga artinya tidak banjir. Musim hujan mendatang akan menjadi ujian bagi berbagai upaya yang telah kami lakukan. Mudah-mudahan tidak ada lagi banjir di Panyileukan,” imbuhnya. (yan)

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga