Hari itu, Sabtu 29 September, mereka telah mengevakuasi tujuh mayat di lokasi mereka beristirahat. Saat itupun Bangkit meyakinkan bahwa bencana ini dahsyat dan pasti akan banyak korban.
Hari-hari berlanjut tak terasa mereka sudah 6 hari di Palu, mereka bekerja tak kenal lelah. Bangkit dan Sukardiyanto mengerjakan apa saja. Bisa evakuasi mayat, bisa mengangkut pengungsi, mengangkut relawan dari pelabuhan Pantoloan, apa saja mereka kerjakan.
Jangan ditanya kulit kelam dan terbakar. Terik matahari Palu ini bisa sampai 37 derajat celcius tercatat, namun level 39 bisa terasa dikulit. Apalagi pascagempa tsunami suhu terasa meningkat. Bumi Tadulako memang tengah bergejolak.
Baca Juga:Ngopi Saraosna Vol 6, Kemasan Lebih Santai & RomantisInternational Conference on International Relations (ICON-IR) 2018
Bukan kali ini Koptu Bangkit bekerja penanganan bencana. “Saya pernah dikirim juga di Aceh saat tsunami 2004. Saya sampai ke Lhoksumawe juga,” ceritanya. Sampai kapan masa tugas di Palu? “Itu kami nda tahu, bisa sebulan bisa lebih, tergantung perintah,” ujar Bangkit.
Saya yakin ada ribuan tentara yang saat ini bekerja di Palu seperti Bangkit dan Sukardiyanto. Mereka bergerak dalam diam. Hanya bekerja, bekerja dan bekerja. Mengumpulkan semua mayat mayat dan mengevakuasi manusia yang masih hidup.
Mungkin mereka tak tersorot kamera. Tak muncul dalam media sosial apa saja. Namun masih bisa tersenyum semringah bukti kerja mereka ikhlas. Karena mereka tetap sehat, tegap dan sergap meski kerja pagi hingga pagi lagi.
4 Oktober 2018 pagi, 18 anggota relawan UMI Makassar segera bergerak mendata pengungsi dan penghuni rumah di Kompleks Perum Klapa Gading, membagi logistik ke setiap rumah-rumah, mendata ibu ibu hamil yang akan melahirkan, bersiap siap mengantar mereka ke RS Undata dan persiapan untuk ke lokasi lokasi yang belum tersentuh penanganan.
Mereka bekerja dalam diam. Sekali-sekali bercanda, saling mengejek diantara mereka. Tak boleh mempublikasi diri sendiri. Meski mereka mahasiswa yang hidup di jaman serba narsis.
”Sampai kapan kalian di Palu?” Tanya saya. Kalau lihat lihat kondisinya Bu, kemungkinan bisa sampai sebulan, bisa lebih, kata si gondrong sambil lalu dan terus bekerja. Bersyukur rasanya masih ada manusia-manusia seperti mereka. Bekerja dengan ikhlas tanpa citra. (*)
