Palu, Lima Hari Pasca Gempa dan Tsunami

Palu, Lima Hari Pasca Gempa dan Tsunami
ZULKIFLI/RAKYATSULSEL/JABAR EKSPRES
GEMPA LOMBOK: Warga saat melintas di area bangunan yang rubuh pasca gempa dan tsunami yang melanda Palu, Donggala dan Sigi di Pantai Talise Palu, Kamis (4/10).
0 Komentar

Hari itu, Sabtu 29 September, mereka telah mengevakuasi tujuh mayat di lokasi mereka beristirahat. Saat itupun Bang­kit meyakinkan bahwa ben­cana ini dahsyat dan pasti akan banyak korban.

Hari-hari berlanjut tak te­rasa mereka sudah 6 hari di Palu, mereka bekerja tak ke­nal lelah. Bangkit dan Sukar­diyanto mengerjakan apa saja. Bisa evakuasi mayat, bisa mengangkut pengungsi, mengangkut relawan dari pelabuhan Pantoloan, apa saja mereka kerjakan.

Jangan ditanya kulit kelam dan terbakar. Terik matahari Palu ini bisa sampai 37 dera­jat celcius tercatat, namun level 39 bisa terasa dikulit. Apalagi pascagempa tsunami suhu terasa meningkat. Bumi Tadulako memang tengah bergejolak.

Baca Juga:Ngopi Saraosna Vol 6, Kemasan Lebih Santai & RomantisInternational Conference on International Relations (ICON-IR) 2018

Bukan kali ini Koptu Bang­kit bekerja penanganan ben­cana. “Saya pernah dikirim juga di Aceh saat tsunami 2004. Saya sampai ke Lhoksumawe juga,” ceritanya. Sampai kapan masa tugas di Palu? “Itu kami nda tahu, bisa sebulan bisa lebih, tergantung perintah,” ujar Bangkit.

Saya yakin ada ribuan ten­tara yang saat ini bekerja di Palu seperti Bangkit dan Su­kardiyanto. Mereka bergerak dalam diam. Hanya bekerja, bekerja dan bekerja. Mengumpulkan semua mayat mayat dan mengevakuasi manusia yang masih hidup.

Mungkin mereka tak terso­rot kamera. Tak muncul dalam media sosial apa saja. Namun masih bisa tersenyum sem­ringah bukti kerja mereka ikhlas. Karena mereka tetap sehat, tegap dan sergap meski kerja pagi hingga pagi lagi.

4 Oktober 2018 pagi, 18 ang­gota relawan UMI Makassar segera bergerak mendata pengungsi dan penghuni ru­mah di Kompleks Perum Klapa Gading, membagi lo­gistik ke setiap rumah-rumah, mendata ibu ibu hamil yang akan melahirkan, bersiap siap mengantar mereka ke RS Un­data dan persiapan untuk ke lokasi lokasi yang belum tersentuh penanganan.

Mereka bekerja dalam diam. Sekali-sekali bercanda, saling mengejek diantara mereka. Tak boleh mempublikasi diri sendiri. Meski mereka maha­siswa yang hidup di jaman serba narsis.

”Sampai kapan kalian di Palu?” Tanya saya. Kalau lihat lihat kondisinya Bu, kemun­gkinan bisa sampai sebulan, bisa lebih, kata si gondrong sambil lalu dan terus bekerja. Bersyukur rasanya masih ada manusia-manusia seperti mereka. Bekerja dengan ikh­las tanpa citra. (*)

0 Komentar