Guru Disrupsi: Sebuah Pergeseran Peran

Guru Disrupsi: Sebuah Pergeseran Peran
Oleh: Asep Hilman
0 Komentar

Bukankah di area aktivitas lain masyarakat saat ini sudah tidak asing lagi dengan mun­culnya inovasi aplikasi tekno­logi seperti Uber, GoJek, Gofood dan online shopping seperti Bukalapak, Tokopedia, Bli-bli dll yang keberadaannya mengancam para incumbent dan pemilik status quo di bidangnya masing-masing. Itulah gam­baran singkat era disrupsi.

Berkaca pada keadaan era disrupsi maka tidak diragukan lagi, disrupsi akan juga mendo­rong terjadinya digitalisasi sistem pendidikan. Munculnya ino­vasi aplikasi teknologi seperti digambarkan di atas akan meng­inspirasi lahirnya aplikasi sejenis di bidang pendidikan.

”Pendidikan adalah jalan panjang sebuah bangsa untuk menjawab tantangan-tantan­gan yang ada dalam membangun martabat bangsa ini,” demikian bunyi pernyataan Presiden Joko Widodo dalam suatu kesempatan.

Baca Juga:Dari Bandung Menginspirasi DuniaWajib Belajar 12 Tahun Harus Tuntas

Garda terdepan pelaksana pendidikan setelah orangtua tetaplah guru. Oleh karena itu rangkaian perubahan yang dia­lami oleh sebuah bangsa tidak akan bisa menghilangkan peran guru sebagai actor utama pen­didikan. Guru disrupsi adalah guru yang telah merevolusi pe­ran, tugas dan tanggungjawab­nya menyesuaikan diri dengan suasana era disrupsi yang saat ini tengah terjadi.

Mengingat di era disrupsi kegiatan belajar-mengajar akan berubah total di mana ruang kelas mengalami evolusi dengan pola pembelajaran digital yang memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih krea­tif, partisipatif, beragam, dan menyeluruh maka peran-peran guru sebagai pengajar, sumber belajar, demonstrator dan pe­latih harus bergeser.

Perlunya pergeseran peran guru dimaksud adalah untuk menjawab perubahan ekspo­nensional era disrupsi seba­gaimana dikonsepkan antara lain melalui MOOC dan AI. MOOC (Massive Open Online Course) adalah inovasi pem­belajaran daring yang dirancang terbuka, dapat saling berbagi dan saling terhubung atau ber­jejaring satu sama lain.

Prinsip ini menandai dimulai­nya demokratisasi pengetahuan yang menciptakan kesempatan bagi kita untuk memanfaatkan dunia teknologi dengan produk­tif. Sedangkan AI (Artificial Intel­ligence) adalah mesin kecerda­san buatan yang dirancang untuk melakukan pekerjaan yang spesifik dalam membantu kese­harian manusia.

Di bidang pendidikan, AI akan membantu pembelaja­ran yang bersifat individual. Sebab, AI mampu melakukan pencarian informasi yang diinginkan sekaligus menya­jikannya dengan cepat, aku­rat, dan interaktif. Baik MOOC maupun AI akan mengacak-acak metode pendidikan lama. (Muhammad Nur Rizal, 2017).

0 Komentar