Mahasiswa Sekarang Kurang Kritis

Mahasiswa Sekarang Kurang Kritis
HASIL KARYA: Seorang mahasiswi mengamati foto-foto tragediMei 98 di Gedung Sasana Krida Kampus Unjani.
0 Komentar

CIMAHI– Berbeda dengan mahasiswa zaman dulu, yang memiliki semangat juang dan kritis terhadap pemerintahan, generasi milenium saat ini khususnya mahasiswa kurang memiliki semangat amanah reformasi.

Hal itu dikatakan Mantan aktivis 98, Arif Bawono, saat ditemui usai menjadi narasumber pada acara diskusi publik dan pameran foto aksi-aksi Mahasiswa 20th Reformasi 1998, di Gedung Sasana Krida, Kampus Unjani, Kota Cimahi, Rabu (23/5).

Menurut Arif, yang terjadi saat ini mahasiswa sekarang bisa dibilang sangat kekurangan semangat menjaga amanah reformasi. Padahal, seharusnya mereka (mahasiswa) itu yang harusnya mengawal hasil perjuangan para mahasiswa alumni ’98 dulu. Sebab, mahasiswa maupun generasi muda saat ini sudah diberikan segala kemudahan dari hasil penggulingan Orde baru (Orba) menjadi Reformasi.

Baca Juga:Ubah Sampah Plastik Jadi BBMDisdukcapil Bandung Tak Kenal Libur

“Mahasiswa zaman dulu berjuang dari nol, untuk bisa mendapatkan mimbar bebas. Sebetulnya dulu juga sama, demonstrasi itu tidak diminati. Paling 10 orang, tapi tidak berhenti sampai disitu. Dari sedikit, sampai akhirnya ratusan orang yang ikut. Kalau sekarang, mereka engga ada keinginan untuk terus berjuang, mentalnya melemah,” ujarnya.

Arif menjelaskan, pada jaman dulu sebenarnya kebebasan berekspresi itu sangat dikekang, berbeda dengan sekarang yang sudah sangat diakomodir, termasuk kebebasan pers juga. Sehingga sekarang Informasi sangat mudah diakses.

“Mungkin segala kemudahan itu yang membuat mereka jadi manja,” jelasnya.

Kendati demikian, Arif tak menampik aksi perjuangan reformasi yang digalang para aktivis 98 baru sebatas menggaungkan reformasi dan menggulingkan era Orba Namun, masih ada agenda yang tersisa dan belum tuntas sepenuhnya seperti tentang Hak Asasi Manusia (HAM) dan supremasi hukum.

“Masih ada pekerjaan rumah, seperti HAM yang belum tuntas, lawan segala macam hoax, dan supremasi hukum. Perjuangan harus diteruskan, khususnya dari BEM FISIP Unjani,” katanya.

Ditempat yang sama, perwakilan BEM FISIP Unjani, Gusman Maulana, juga mengakui jika mahasiswa saat ini tak banyak tahu mengenai makna sebenarnya dari aksi penggulingan Orba ke Reformasi.

“Tentang reformasi, mahasiswa sekarang hanya tahu itu adalah peruntuhan rezim Soeharto. Mereka juga hanya tahu mahasiswa yang punya andil penggulingan, padahal lebih dari itu reformasi bermakna banyak pada Indonesia,” katanya.

0 Komentar