Untuk itu, Matdon meminta kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) agar mencegah buku-buku gerakan puisi esai tersebut diselundupkan kaum oportunis menjadi salah satu buku atau bahan ajar di sekolah-sekolah.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Balai Bahasa Jawa Barat, Sutejo memberi apresiasi terhadap seruan yang disampaikan sastrawan Bandung tersebut. Dirinya mengaku termasuk orang yang mengikuti perkembangan Denny JA. ”Dalam konteks membuat puisi esai tidak ada masalah. Tapi yang menjadi masalah ketika menerbitkan buku mengandalkan modal yang dia (Denny JA) miliki,” kata Sutejo.
Dikatakan Sutejo, dengan kekuatan modal Denny JA menghimpun seluruh sastrawan muda di Indonesia. Menurutnya, konteks tersebutlah yang menjadi permasalahan karena seseorang mau menulis kalau mendapat bayaran. ”Ini yang agak bermasalah. Saya juga terheran-heran Denny JA itu muncul sebagai sastrawan sejak kapan,” kata dia.
Baca Juga:Terjunkan 1.742 Tenaga Kesehatan Tanggulangi Wabah DifteriSosok Mayat Laki-Laki Ditemukan
Menurut Sutejo, sampai saat ini pihaknya belum menemukan adanya keterlibatan pihak Balai Bahasa yang mengikuti penulis bayaran Denny JA. Sehingga, Balai Bahasa Jawa Barat dipastikan tetap bersikap netral.(mg1/ign)
