BANDUNG – Sejumlah sastrawan dari berbagai daerah di Jawa Barat menyambangi Kantor Balai Bahasa Jawa Barat. Kedatangan mereka untuk memberikan petisi pernyataan sikap penolakan terhadap proyek penulisan buku puisi esai nasional yang digagas Denny JA dengan melibatkan banyak penyair muda.
Petisi berjudul “Jabar Menolak Denny JA” saat ini telah mendapatkan kurang lebih 2 ribu tanda tangan dari berbagai kalangan masyarakat dan sastrawan di Indonesia yang menolak proyek tersebut.
Rois’Am Majelis Sastra Bandung (MSB) Matdon mengatakan, petisi dibuat karena ketidaksetujuan sastrawan di Indonesia dengan ketokohan Denny JA. Sebab, Denny JA, seorang ahli survei yang ingin diakui sebagai sastrawan hanya karena sudah membuat sebanyak 5 puisi.
Baca Juga:Terjunkan 1.742 Tenaga Kesehatan Tanggulangi Wabah DifteriSosok Mayat Laki-Laki Ditemukan
”Kami membuat petisi di seluruh Indonesia. Sudah ada dua ribu tanda tangan, termasuk dari Bandung,” kata Matdon di Bandung (31/01).
Dikatakan Matdon, para penyair dan pegiat seni sastra di Indonesia menganggap banyaknya nama yang bersedia ikut dalam proyek tersebut lantaran tergiur tawaran uang yang diberikan Denny JA.
Menurutnya, hal tersebutlah yang membuat para komunitas sastra di tanah air merasa perlu melakukan sebuah penyadaran karena apa yang dilakukan Denny JA dapat merusak susastra Indonesia. ”Denny memang pesan puisi esai ke banyak penyair, saya juga ditawari. Satu puisi Rp5 juta, kepada 170 orang agar dia akui sebagai tokoh,” kata dia.
Meskipun tidak ada larangan dalam berkarya kata Matdon, namun soal keinginan Denny JA disebut sebagai tokoh sastra serta klaim puisi esainya adalah yang pertama menjadi alasan pihaknya menolak adanya proyek tersebut. ”Itu yang akan merusak, padahal puisi esai sudah ada sejak lama,” kata dia.
Matdon menilai, proyek tersebut adalah rekayasa politis Denny JA untuk mendapatkan pengakuan sebagai tokoh sastra menggunakan kekuatan uang seperti yang pernah dilakukan lewat pembiayaan lomba puisi esai dan penerbitan buku ‘33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh’, dan ‘Membawa Puisi ke Tengah Gelanggang’.
