Guru dan Tantangan Perubahan

Guru dan Tantangan Perubahan
Oleh : Elih Sudiapermana
Kadisdik Kota Bandung
0 Komentar

Einstein mengatakan bahwa ”Imagination is more important than knowledge”. ”Knowledge is power but character is more”. Pernyataan ini menegaskan bahwa menguasai sejumlah pengetahuan tidaklah cukup. Memiliki kebiasaan-kebiasaan baik secara kemanusiaan dan berbudaya ilmu pengetahuan menjadi modal utama.

Berusaha mencari, mengkreasi, dan mengembangan pengetahuan adalah hal yang lebih penting. Ini artinya bahwa mereka-mereka yg selalu mengembangkan diri untuk berimajinasi akan senantiasa haus berilmu pengetahuan, ketimbang mereka-mereka yang hanya berusaha menumpuk ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Oleh karena itu untuk membekali anak-anak kita bisa sukses di kehidupannya ke depan, tidak cukup mereka dijejali dengan informasi dan pengetahuan, lebih penting mereka dikuatkan dalam kompetensi proses. Bukan sekadar kompetensi hasil apalagi jika hasil yang dimaksud hanya berupa kemampuan kognitif tingkat rendah.

Baca Juga:Mojang Geulis Menantang PetahanaBaru 2 Kandidat Lapor LHKPN

Kini kita dihadapkan dengan kebutuhan baru, apa yang disebut kompetensi abad-21. Banyak pendapat para ahli tentang jenis kompetensi ini. Supaya mudah dipahami paling tidak kita coba ingat enam kompetensi pokok, yaitu kompetensi komunikasi, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, karakter, dan literasi.

Inilah kompetensi yang diprediksi dapat mengantarkan orang-orang mencapai sukses di era digital. Jelas kita lihat bahwa masa kini dan ke depan, pendekatan yang menekankan pembekalan penguasan konten semakin jauh dari tujuan pendidikan. Anak-anak kita harus lebih banyak difasilitasi agar berkembang kompetensi abad-21 yang dibutuhkan.

Banyak hasil riset meyakinkan bahwa kesuksesan seseorang di era digital sekarang banyak dipengaruhi faktor soft skill seseorang. Jika dunia sekarang menuntut kecakapan hidup, soft skill, karakter, dan berbagai kompetensi abad-21 sebagaimana diuraikan di atas, barukah ini di dunia pendidikan? Hal barukah bagi seorang guru? Rasanya tidak!

Bagi mereka yang komitmen pada tujuan pendidikan dan menempatkan siswa sebagai subyek seorang anak manusia dengan bekal potensi luar biasa, pasti masih ingat dan bisa mengasosiasikan dengan istilah-istilah serupa yang sudah digaungkan sejak lama di dunia pendidikan.

Ahli pendidikan klasik Langeveld menyatakan bahwa mendidik adalah upaya sadar dan sengaja memberikan pembimbingan kepada seorang anak (yang belum dewasa) dalam pertumbuhannya untuk menuju ke arah kedewasaan dan bertanggung jawab sesuai atas segala tindakan-tindakannya menurut pilihannya sendiri.

0 Komentar