oleh

Stabilisasi Harga Mentok

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional Indonesia Abdullah Mansuri mengungkapkan, untuk menstabilkan harga, perlu langkah-langkah yang matang selain mengomandoi melalui penetapan HET.

”Rekomendasi kami tetap sama, yaitu pemerintah harus punya strategi jangka panjang untuk menghadapi komoditas yang harganya berfluktuasi. Terutama untuk momen seperti Lebaran. Strategi tersebut juga mengakar pada produksi di mana harus melibatkan BMKG, pemerintah daerah, petani, sampai pedagang,” ujar Mansuri.

Menurut dia, persoalan harga adalah mekanisme pasar di mana itu terbentuk karena suplai dan demand. Sehingga untuk memastikan tidak ada masalah ketika demand tinggi, pemerintah harus memastikan suplainya sudah benar baik itu dari sisi produksi dan distribusi.

Baca Juga:  Bulog: Kualitas dan Kuantitas Beras PPKM Tejamin

”Antisipasi juga dapat dilakukan dengan pemetaan wilayah produksi dan distribusi. Jika kenaikan harga pangan sudah mulai terasa, pemerintah harus memastikan pasokan dan distribusi pangan tidak terganggu,” kata Mansuri.

Ekonom Indef Eko Listiyanto menambahkan, instrumen yang perlu dihadirkan pemerintah untuk mengatasi disparitas harga adalah menegakkan badan penyangga pangan. Eko beranggapan harus ada kelembagaan yang bisa mengurus cadangan pangan pemerintah yang bisa digunakan instrumen stabilisasi pangan.

Baca Juga:  Yuk Simak! Cara Dapat Bansos Tunai Rp300 Ribu dan Beras 10 Kg

Caranya bisa membuat lembaga baru yang independen, atau menyerahkan pada Bulog yang sudah memiliki pengalaman. Namun, Bulog harus meninggalkan fungsi-fungsi komersialnya, sehingga bisa menjadi lembaga independen yang berfokus pada public service obligation.

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga