Namun demikian sebut dia, meski sudah diresmikan penggunaannya namun masih ada beberapa hal kecil yang harus dibenahi agar lebih sempurna. ”Kan proyek Pemkot memang seperti itu. Pertama adalah bangunan luarnya. Kemudian beli barangnya. Kalau kita bangun rumah sakit juga begitu. Tahun pertama gedung dulu, tahun kedua kedua pembelian alat-alat kesehatan. Proyek Pemkot rata-rata untuk berfungsi dua tahun. Tahun pertama infrastruktur bangunan, tahun kedua interior dan isinya. Resmi dijalankan walupun beberapa perlu penyempurnaan. Masih banyak yang perlu diperbaiki interior. Ada hal kecil lah,” jelasnya.
Untuk user sendiri kata Ridwan, ada beberapa fasiltas yang memang digratiskan namun ada juga yang berbayar. ”Ada beberapa fasilitas gratis, ada berbayar. Misalnya sewa komputer dan lainnya. Intinya kami tidak mau mencari profit, tapi lebih kepada kemudahan saja,” sambungnya.
Wakil Wali Kota Bandung Oded M. Danial yang turut serta meresmikan gedung tersebut, menyebutkan BCH nantinya bisa menjadi sebuah fasilitas agar warganya lebih kreatif lagi dan mampu mengekpresikan ide dan gagasannya. “Pembagunan gedung yang kami bangun untuk warga Bandung, saya kira begitu ya,” tuturnya.
Baca Juga:Guru Jangan Gaptek, Manfaatkan KemajuanAparatur Desa Harus Paham Tupoksi
Peresemian Gedung BCH sempat molor selama lebih dari Enam bulan, semula direncanakan peresmiannya akan digelar pada sekira Mei 2017 lalu. Gaya dari bangunan tersebut memang terbilang unik dan mencolok, karena bagian luarnya diberi sejumlah ornament.
Riki Junandar, konsultan perencanaan BCH beberapa waktu lalu sempat menyebutkan jika konsep pembangunan gedung tersebut tidak jauh berbeda dengan gedung lainnya. Hanya saja karena untuk keperluang Gedung kreatif, maka pihaknya menambahkan sentuhan ornament luar pada tembok tembok gedung. Tak hanya sekedar ornament belaka, namun jika malam hari akan memancarkan cahaya, cahaya itu muncuk dari setiap lipatan yang memang dipasang lampu. (pan/ign)
