Namun, tidak mudah menularkan virus kejujuran kepada anak-anak melalui drama. Buktinya, pendiri Impactful Arts Willem Bevers harus bekerja ekstra untuk menyampaikan pesan kejujuran lewat sosiodrama. Sebab, setiap anak memiliki karakter berbeda. Khususnya di jenjang SMP. ”Karena anak SMP ada di usia peralihan. Sebagian masih anak-anak, sebagian lagi merasa sudah dewasa,” terangnya.
Penanaman nilai kejujuran memang harus disesuaikan dengan kelompok umur. Untuk kelompok sekolah dasar, kejujuran bisa diajarkan lewat contoh sederhana. Misalnya membiasakan untuk tidak menggunakan istilah-istilah kebohongan atau kalimat yang menjurus pada praktik curang. ”Nanti mereka gampang sedikit-sedikit bohong,” tuturnya.
Nah, untuk SMA, umumnya siswa mulai diajari tentang transparansi. Sebab, di usia remaja menuju dewasa tersebut, seseorang lebih sering menduga suatu permasalahan di sekitarnya. Hal itu berujung pada miskomunikasi. Baik itu dengan teman maupun orang terdekat. (*/c10/c9/oki)
