Karena itu, dia tahu betul bahwa di-bully itu sangat tidak enak. Dalam pergaulannya di sekolah pun, dia pernah membela kawannya yang di-bully teman lainnya. Dia ingin menunjukkan bahwa untuk berbuat benar tidak perlu takut.
Whitby menuturkan, ada banyak hal yang dirinya pelajari dalam FAJ. Di antaranya, bagaimana bersikap sopan hingga cara memanusiakan manusia. ’’Juga bagaimana kita harus berani berpendapat,’’ lanjutnya. Bagi Whitby, dari semua yang dipelajarinya, kejujuran sangat penting dalam pergaulan. Dia sendiri mengakui masih belum mampu 100 persen jujur meski sudah berupaya. Khususnya di rumah. Salah satunya, untuk menyenangkan hati orang tuanya. Kadang dia khawatir orang tuanya kecewa bila tahu kenyataannya.
Nilai kejujuran sangat penting untuk mencegah perilaku koruptif. Dan itu bisa dilatih melalui perilaku sehari-hari. Baik di rumah, sekolah, maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut dia, banyak hal positif yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran, keberanian, keadilan, hingga kedisiplinan. Semuanya bisa diterapkan secara sederhana dalam pergaulan. Itu bisa mencegah peluang remaja berperilaku buruk.
Baca Juga:Medsos Akan Dipantau saat PilkadaPerempuan Miliki Peran Dalam Pembangunan
M. Rehan Alfaris juga berpendapat bahwa latihan kejujuran harus terus digalakkan. Dia senang bisa mengikuti drama yang disajikan dalam FAJ 2. ’’Saya harus introspeksi diri agar ke depan bisa lebih jujur,’’ tutur siswa SMPN 141 Jakarta itu. Contoh kecil penerapan kejujuran di sekolah adalah tidak menyontek saat ujian. Ketika ditanya apakah dia pernah menyontek, siswa kelas VIII itu tersipu. ’’Pernah, tapi saya yakin setelah ini bisa mengurangi itu,’’ imbuhnya.
Pihak sekolah juga menangkap pesan yang disampaikan KPK. Setelah beberapa tahun belakangan ajakan berperilaku jujur digaungkan lewat media massa, pihak sekolah mengembangkan program latihan kejujuran versi masing-masing.
Wakasek Kesiswaan SMPN 104 Jakarta Murtini menuturkan, yang ditampilkan dalam drama sebenarnya sudah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. ’’Contohnya, ada seorang ibu yang menyuruh anaknya mengatakan bahwa ibu tidak ada di rumah kepada tamunya. Itu sering sekali kita lihat,’’ tuturnya. Perintah ibu dalam contoh kecil tersebut adalah cara mengajari anak untuk berbohong.
Begitu pula kasus bullying, yang muncul saat seorang siswa merasa lebih hebat daripada yang lain. Kemudian, dia menindas siswa lain yang dinilai lemah. Para siswa pun diajar untuk melawan ketidakadilan semacam itu.
