Murtini menjelaskan, di sekolahnya, pelatihan kejujuran dikemas dalam berbagai metode. Salah satunya lewat latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS). Dalam kegiatan tersebut, ditanamkan nilai-nilai kejujuran, keberanian untuk menolong yang lemah, hingga kepedulian sosial. ’’Dalam kegiatan sehari-hari, kami juga ada pembiasaan untuk jujur,’’ lanjutnya.
Menurut Murtini, mendidik siswa untuk jujur itu gampang-gampang susah. Di sekolah para guru selalu membiasakan siswanya berperilaku jujur. Baik kepada guru maupun sesama teman. ’’Tapi, ketika dia kembali ke rumah, ini yang kami sangsikan, apakah oang tua juga berperan aktif mengajak anak-anak untuk jujur,’’ tambah guru 52 tahun tersebut.
Karena itu, dia berkesimpulan bahwa pendidikan di rumah dan sekolah harus sinkron. Ketika sekolah menerapkan nilai kejujuran, orang tua juga harus proaktif menerapkan kejujuran di dalam rumah. Dengan demikian, pendidikan moral tersebut tidak akan terputus. Siswa akan terbiasa jujur karena baik di rumah maupun di sekolah ada keharusan untuk menjaga integritas.
Baca Juga:Medsos Akan Dipantau saat PilkadaPerempuan Miliki Peran Dalam Pembangunan
Untuk menyinkronkan hal tersebut, tutur Murtini, dirinya rutin menggelar pertemuan dengan komite sekolah. ’’Kami mengomunikasikan apa yang dilakukan pihak sekolah sehingga diharapkan komite juga bisa menjalankannya,’’ ujar Murtini.
Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif menambahkan bahwa tidak mungkin pejuang antikorupsi lahir dari orang yang tidak jujur. ”Pejuang antikorupsi ke depan itu sangat bergantung pada kejujuran sejak anak-anak sekarang,” katanya kepada Jawa Pos (Induk Jabar Ekspres).
Laode mengungkapkan, antusiasme anak-anak dalam kegiatan penanaman kejujuran memang meningkat dari tahun ke tahun. Pada kegiatan FAJ dua pekan lalu, misalnya, ada 1.080 pelajar SD–SMA yang menjadi peserta sosiodrama yang digelar KPK selama dua hari. Mereka diajak terlibat langsung bermain seni peran dengan tema kejujuran.
Sebelumnya penanaman nilai kejujuran pada FAJ 2016 menggunakan media dongeng. Nah, kali ini KPK menggandeng kelompok teater untuk bermain seni peran. Hanya, pertunjukan seni peran itu tidak dilakukan di atas panggung. Tapi di tempat terbuka serta lokasi yang di-setting seperti ruang kelas, jalan raya, taman, dan rumah.
Laode menuturkan, kejujuran memang harus ditularkan sejak dini. Setidaknya agar membuat anak-anak terbiasa tidak berbuat curang dalam kehidupan sehari-hari. Baik itu di rumah, sekolah, maupun saat bergaul. ”Salah satu indikatornya (keberhasilan penanaman nilai kejujuran sejak dini, Red), mereka stop nyontek saja di sekolah, itu sudah bagus,” ujarnya.
