”Kompetensi itu jadi pertimbangan, di samping Pak Sudrajat juga aktif menjadi pengurus pesantren di Sukabumi,” kata Mulyadi.
Disinggung mengenai popularitas Sudrajat yang masih fresh, Mulyadi mengaku tidak khawatir. Dia mengklaim Gerindra terlatih dalam memunculkan nama yang tidak terkenal.
”Emil (Ridwan Kamil) sebelumnya tidak terdeteksi survei, Anies-Sandi didaftarkan satu hari sebelum penutupan, suaranya pun kalah dari Ahok (Basuki Tjahaja Purnama), tapi menang,” terangnya. ”Kami punya cara menghidupkan mesin partai,” tegasnya.
Baca Juga:PPID Dibentuk Bantu Satuan Pendidikan150 Anggota Polri Dapat Jatah Rumah
Dia mengatakan, PKS diakui menjadi target utama dalam koalisi. Namun, untuk Deddy Mizwar yang membawa nama Demokrat dia akui akan susah.
”Demiz dipaksakan susah. Sebab, kami punya calon. (Demiz) Buat kita sudah selesai. PKS di tingkat pusat intens komunikasi. Optimistis reuni koalisi DKI akan terealisasi,” ucapnya.
Sementara itu, Peneliti Senior Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Unpad Idil Akbar menilai, tidak bisa dipungkiri pengusungan Mayjen Purn Sudrajat akan mengubah peta politik PKS, PAN dan Demokrat. Antara lain indikasi Ahmad Syaikhu ataupun Deddy Mizwar diganti oleh mantan ketua tim sukses Prabowo Subianto tersebut.
”Keberadaan Mayjen Purn Sudrajat memang akan mengancam posisi Ahmad Syaikhu senang atau tidak senang itu kenyataannya. Begitu juga dengan posisi Deddy Mizwar sama halnya terancam. Tapi, yang berpeluang besar digeser adalah posisi Ahmad Syaikhu,” tuturnya.
Faktornya, kata dia, alasan historis di Pilkada DKI Jakarta. Teknisnya, Gerindra dan PKS bersatu dan mampu memenangkan Pilkada DKI. Wacana ini santer dibahas oleh DPP Gerindra dan PKS, terutamanya soal kepentingan Pilpres 2019 nanti.
”Selama ini sudah berjalan komunikasi politik antara Gerindra dan PKS. Artinya indikasi kuat ada pembicaraan siapa yang akan dipasangkan dengan Deddy Mizwar, apakah dengan Sudrajat atau tetap Ahmad Syaikhu,” jelasnya.
Namun demikian, di satu sisi paket bakal calon Deddy Mizwar dan Ahmad Syaikhu memang dinilai banyak orang sudah cocok. Termasuk hasil survei paket ini merangkak meski nilainya tidak cukup signifikan hanya sekitar 28 persen. Jumlah itu, masih kalah jauh dengan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum ataupun Ridwan Kamil dan Daniel Muttaqien.
