Setelah semua menuntaskan lari 5 km, Timo memimpin untuk melakukan strides 6 x 75 meter. Itu lari sprint sepanjang 75 meter dan diulangi selama enam kali. Setelah itu, barulah kami melakukan stretching.
Setelah sarapan, kami diajak ke Tambach Teachers College. Di sana terdapat lapangan tanah liat yang digunakan para elite runners Kenya untuk berlatih interval run.
Keberuntungan pun berpihak kepada kami. Saat kami berjalan mengelilingi lintasan, tiba-tiba muncul Wilson Kipsang dan timnya yang akan berlatih di lapangan itu.
Baca Juga:Densus Tipikor Polri Diusulkan Awasi Dana DesaTimnas U-19 Indonesia Coret Tiga Pemain
Siangnya, setelah makan, kami diajak berjalan kaki ke pusat kota. ”Silakan dihafalkan di mana minimarket, toko buah, bank, dan sebagainya,” kata Songok.
Di kamp, kami juga diwajibkan latihan sore. Ada empat pilihan, berlari, bersepeda, gym, atau berenang. Rata-rata memilih berlari, berenang, atau gym. Jarang yang memilih bersepeda karena memang hanya ada satu sepeda yang tersedia. Saya lebih sering memilih berenang atau gym.
Agenda hari pertama diakhiri dengan diskusi bersama Timo dan Godfrey Kiprotich tentang metode latihan pelari-pelari Kenya. Godfrey juga salah seorang pelatih di HATC. Dia adalah mantan pelari jarak jauh Kenya. (*/c10/ttg)
