Di antara kamar-kamar itu, ada dapur sekaligus tempat makan. Di dapur tersebut ada perapian yang diberi tonggak untuk meletakkan panci. Ada ventilasi kecil berukuran 20 x 20 cm di dindingnya sebagai tempat keluarnya asap. ”Lubangnya sengaja kami buat kecil karena banyak nyamuk di sini,” kata Sasine.
Ventilasi kecil itu juga berfungsi sebagai tempat masuknya cahaya ke dalam manyatta. Meski begitu, tetap saja gelap. Tidak terbayang bila malam tiba. Mereka hanya mengandalkan penerangan dari perapian.
Duduk selama 10 menit di dalam manyatta Sasine sudah membuat saya sesak napas. Kebetulan, saat itu Sasine sedang memasak air untuk membuat chai, semacam teh. Asap dari perapian mengepul memenuhi ruangan sempit tersebut. Bagaimana mungkin bisa tidur di tempat itu?
Baca Juga:Deadline Kesepakatan Anggaran MelesetDinilai Gagal Tingkatkan PAD
Tidak ada kamar mandi di rumah itu. Mereka bisa kencing di mana saja. Tapi, untuk mandi dan buang air besar, mereka melakukannya di sungai. ”Setiap ke sungai, kami membawa air untuk persediaan memasak atau sekadar membasuh muka,” ungkapnya.
Saya jadi teringat novel The White Masai yang ditulis Corinne Hofmann, perempuan Swiss yang jatuh cinta kepada pria Masai, Lketinga. Dia meninggalkan pekerjaannya di Swiss dan menikah dengan pria yang dikenalnya saat berwisata ke Kenya. Selama empat tahun Corinne tinggal di manyatta bersama suaminya di Samburu.
Sampai akhirnya, Corinne tidak tahan dengan perlakuan suaminya. Dia lantas pulang ke Swiss bersama Napirai, putri hasil pernikahannya dengan Lketinga. Hampir semua Masai tahu kisah yang terjadi pada 1986-1990 itu.
Saya mengonfirmasi beberapa cerita di dalam buku tersebut kepada Sasine. Termasuk soal gaya bercinta orang Masai. Dia membenarkan bahwa mereka tidak berciuman karena mulut hanya digunakan untuk makan. Tangan mereka juga tidak boleh memegang (maaf) kemaluan pasangannya.
Warga kampung Masai makan dua kali dalam sehari. Pagi dan malam. Makanan pokoknya adalah ugali. Mirip bubur padat yang terbuat dari jagung. Lauknya bisa daging kambing, domba, dan sapi. Susu sapi juga selalu tersedia di manyatta Sasine. ”Kami juga minum darah untuk menambah kekuatan,” ujarnya.
