Skor tak berubah hingga berakhirnya babak pertama. Kedua tim masih sama kuat 1-1 saat turun minum.
Burnley punya peluang emas melalui sebuah serangan balik pada menit ke-47. Kegagalan David Luiz memotong umpan terobosan Ashley Barnes membuat Andre Gray langsung berhadapan dengan Courtois. Tapi, penyelesaian Gray masih bisa diantisipasi oleh Courtois.
Cesar Azpilicueta berpeluang mencetak gol pada menit ke-61. Dia melepaskan tembakan spekulasi dari jarak jauh, tapi arahnya masih sedikit melambung.
Baca Juga:Belajar Ilmu Jurnalistik itu MudahDenada-Ihsan Tepis Kabar Tunangan
Melihat timnya kesulitan untuk menembus barisan pertahanan Burnley, Antonio Conte memasukkan Cesc Fabregas dan Willian untuk menggantikan Matic dan Moses.
Serbuan Chelsea pada menit ke-72 menghasilkan peluang yang didapat Hazard. Tapi, tembakan Hazard masih melenceng.
Berselang dua menit, Fabregas juga menyia-nyiakan sebuah kesempatan. Meski punya ruang tembak cukup terbuka, sepakannya sama sekali tak mengarah ke sasaran. Pada menit-menit akhir, Conte menarik keluar Pedro dan memasukkan Michy Batshuayi. Akan tetapi, pergantian ini juga tak memberi banyak pengaruh.
Sementara itu Cesc Fabregas menilai saat ini pemain-pemain yang mengandalkan fisik cenderung lebih mendapatkan tempat. Manajernya di Chelsea, Antonio Conte, tak sepakat. Hal tersebut diungkapkan Fabregas karena merasa kesempatan bermainnya tak kunjung meningkat. Di Chelsea, dia kalah bersaing dengan Nemanja Matic dan N’Golo Kante yang menjadi poros ganda dalam pola permainan The Blues.
Pesepakbola 29 tahun itu baru lima kali jadi starter di Liga Primer Inggris musim ini, dari total 15 penampilan. Dia juga baru tiga kali tampil penuh dalam periode tersebut. Fabregas mengatakan, ia tidak lagi jadi pilihan utama lantaran bukan seorang pemain dengan keunggulan fisik dan kecepatan, seperti halnya Matic dan Kante. Fabregas sudah selalu dikenal sebagai pemain flamboyan, yang mengandalkan sentuhan, visi bermain, dan akurasi. (ren)
