Setahun Terserang Wabah, Sempat Ingin Menyerah

Setahun Terserang Wabah, Sempat Ingin Menyerah
ILHAM WANCOKO/JAWA POS
KICAU MERDU: Sukardi bersama jalak Bali hasil penangkaran di Cileungsi, Bogor. Menakarkan burung langka tersebut kerap menemui rintangan.
0 Komentar

Karena itu, mulailah lulusan sarjana biologi UGM tersebut mencari solusi. Mulailah pada 2003 dia menangkarkan burung. Saat itu hanya burung-burung biasa seperti anis kembang, anis merah, cucakrawa, dan jalak putih.

”Yang tidak dilindungi negara,” tuturnya. Lalu, pada 2004 Sukardi bersama keluarganya berlibur ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Di TMII ada wahana burung jalak bali.

Saat itulah dia mulai memiliki impian bisa menangkarkan jalak bali. ”Saya lihat gagahnya jalak bali itu, suaranya yang merdu membuat saya kepincut,” ujarnya.

Baca Juga:Pemprov Efisiensi Dana PilkadaGMBI Keluarkan Petisi untuk Usulkan Pembubaran FPI

Setelah itu, Sukardi selalu terbayang-bayang untuk bisa membiakkan burung dengan nama latin Leucopsar rothschildi tersebut. Berbagai usaha dilakukan. Dua tahun kemudian, barulah impiannya terwujud. Dia mengetahui ada yang menjual jalak bali secara resmi di Bandung. Harga indukannya Rp 50 juta sepasang. ”Saya benar-benar ingin membeli keduanya,” imbuh pria 53 tahun itu.

Mengetahui rencana itu, istrinya protes. Uang begitu banyak kok hanya untuk membeli sepasang burung. Tapi, tekad Sukardi sudah bulat. Dia nekat menjual semua burung miliknya dan merogoh uang tabungan untuk membeli sepasang jalak bali. Pada 2006 itulah, Sukardi mulai menangkarkan burung impiannya. Dia masih ingat dengan nomor cincin sepasang jalak bali yang pertama dimilikinya itu. ”H-603 dan H-709,” ungkapnya.

Ternyata, kemampuan membiakkan burung-burung lain membuat Sukardi bisa menangkarkan jalak bali. Hanya dalam waktu dua pekan, jalak bali pertamanya bertelur. Delapan hari setelah telurnya menetas, anakan bisa dipanen dan langsung dimasukkan inkubator. Lambat laun, anakan jalak bali mulai banyak. Saat itulah, si penjual jalak bali dari Bandung meneleponnya.

”Dia tanya bagaimana jalak balinya. Saya jawab sudah beranak lima. Dia tertegun dan langsung menawari kerja sama. Sepasang jalak bali indukan diganti delapan anakan,” ujar bapak lima anak itu.

Ketelatenan Sukardi membuahkan hasil. Setidaknya, dia sudah memiliki delapan pasang jalak bali indukan. Berarti sudah ada 64 jalak bali anakan yang diberikan kepada si penjual asal Bandung tersebut. ”Saat itu saya sudah memiliki izin penangkaran dan izin edar,” ungkapnya.

Mulailah Sukardi menjual jalak bali miliknya. Biar sang istri tidak lagi menolak hobinya, uang hasil penjualan burung langsung diberikan.

0 Komentar